Minggu, 28 Desember 2025

Apel Pagi Pelajar MI Ma’had Al Zaytun: Menata Disiplin, Menyiapkan Jiwa Belajar


 Setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, pelajar MI Ma’had Al Zaytun mengikuti apel pagi sebagai bagian dari pembiasaan karakter dan kesiapan belajar. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah ritual pendidikan yang dirancang untuk menanamkan nilai disiplin, kebersamaan, nasionalisme, spiritualitas, serta kesadaran diri sejak usia dini.

Apel pagi diawali dengan berbaris rapi, melatih keteraturan dan kepatuhan terhadap aturan bersama. Seluruh pelajar kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebuah praktik nasionalisme yang konsisten ditanamkan di Ma’had Al Zaytun sebagai wujud cinta tanah air. Lagu kebangsaan tidak diposisikan sebagai formalitas, melainkan sebagai sarana membangun kesadaran bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga dan dimuliakan.

Setelah itu, pelajar mengikuti apersepsi kebangsaan dan global, dengan narasi: Indonesia Rumahku; Asia Halaman Rumahku; Australia, Afrika, Amerika dan Eropa Tempat Rekreasiku. Apersepsi ini menanamkan cara pandang luas bahwa pelajar MI bukan hanya warga sekolah atau daerah, melainkan bagian dari masyarakat dunia—berakar kuat di Indonesia, namun berpikiran global.

Rangkaian apel pagi dilanjutkan dengan pembacaan Sapta Janji Dharma Bakti dalam tiga bahasa—Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Penggunaan tiga bahasa ini sekaligus melatih keberanian berbahasa, memperluas wawasan kebahasaan, dan menegaskan identitas pelajar Ma’had Al Zaytun sebagai generasi yang siap hidup di lingkungan nasional maupun internasional. Setelah itu, apel ditutup dengan doa sebelum belajar, sebagai pengingat bahwa ilmu dan proses belajar adalah bagian dari ibadah kepada Allah.

Sebelum pelajar memasuki kelas, guru melakukan pemeriksaan kebersihan kuku dan rambut. Langkah sederhana ini mengajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman dan disiplin diri, serta menjadi syarat terciptanya lingkungan belajar yang sehat dan nyaman. Setelah seluruh rangkaian selesai, pelajar masuk ke kelas dengan kondisi fisik, mental, dan emosional yang lebih siap.

Menurut Kepala Bagian Kesiswaan MI Ma’had Al Zaytun, Ustadz Amirul Fajar Wahdana, S.Pd., apel pagi memiliki peran penting dalam keseluruhan ekosistem pendidikan MI. Ia menjelaskan bahwa apel pagi diadakan untuk melatih sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan pelajar sebelum memulai pembelajaran. Kegiatan ini menjadi titik awal pembentukan ritme harian yang tertib dan terarah.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa apel pagi membentuk karakter pelajar MI dengan menanamkan sikap hormat, kebersamaan, kepatuhan terhadap aturan, serta nilai religius dan nasionalis. Rutinitas seperti berbaris, berdoa, dan mendengarkan arahan secara tidak langsung membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab sosial sejak dini.

Dari sisi kesiapan akademik, apel pagi juga berpengaruh signifikan. Dengan adanya pengarahan dan penataan suasana di pagi hari, pelajar menjadi lebih fokus, tenang, dan siap menerima pelajaran di kelas. Apel pagi berfungsi sebagai jembatan transisi yang efektif dari aktivitas luar menuju proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih kondusif.

Melalui kegiatan apel pagi ini, MI Ma’had Al Zaytun menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi dimulai sejak pelajar menata barisan, menyanyikan lagu kebangsaan, mengucap janji, dan membersihkan diri. Inilah praktik nyata dari motto pendidikan Ma’had Al Zaytun: Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan—menanam kesadaran akan disiplin, identitas, dan tanggung jawab, sekaligus menumbuhkan manusia yang berkarakter, beradab, dan siap hidup bermakna di tengah masyarakat.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S. Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Rabu, 24 Desember 2025

Dari Tilawah hingga Sains: Jejak Prestasi Shahnaz Aliyya Nurfauzi, Santri MI Ma’had Al Zaytun yang Menginspirasi


 Semangat belajar, ketekunan, dan rasa syukur berpadu indah dalam diri Shahnaz Aliyya Nurfauzi binti Mohammad Fauzy, santri kelas 5 B 01 MI Ma’had Al Zaytun. Lahir di Jakarta pada 10 November 2013 dan berasal dari Jakarta Selatan, Shahnaz tumbuh sebagai pribadi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif mengembangkan potensi diri di bidang keagamaan, seni, dan sains.

Keseharian Shahnaz diwarnai dengan kegemarannya mendengarkan lagu dan membaca buku. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh kecintaan pada ilmu pengetahuan dan kepekaan rasa yang membentuk karakter disiplin serta daya pikir yang luas. Tak heran, sejak kelas 1 hingga kelas 4, Shahnaz selalu meraih peringkat 1 di kelas, sebuah pencapaian yang mencerminkan konsistensi dan komitmen tinggi terhadap proses belajar.

Prestasi Shahnaz tidak berhenti di ruang kelas. Di bidang akademik, ia berhasil menorehkan kebanggaan sebagai Finalis Kompetisi Sains OMNAS ke-14 tahun 2025, menunjukkan bahwa pelajar madrasah mampu bersaing dan berprestasi di level nasional. Sementara di bidang seni, Shahnaz turut mengharumkan nama madrasah melalui Juara 1 Tim Tari MI CUP 2022 (kelas 1), Juara 1 Tim Tari MI CUP 2023 (kelas 3), serta Juara 2 Tim Tari Fun Colorful Days 2 (kelas 4).

Pada ranah spiritual dan keagamaan, Shahnaz juga menunjukkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Ia meraih Juara 1 Lomba Tilawah Al-Qur’an ajang Piala OPMAZ tahun 2025, aktif sebagai peserta kegiatan Sima’an Juz 30 tahun 2024–2025, dan telah menorehkan prestasi mulia sebagai Hafidzah Juz 30 (Juz ‘Amma). Capaian ini menjadi bukti bahwa keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat benar-benar tertanam dalam proses pendidikannya.

Dalam ungkapan kesannya, Shahnaz menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Ia merasa beruntung dapat melakukan banyak hal baru yang tidak semua orang berkesempatan mengalaminya. Dengan penuh ketulusan, Shahnaz mengucapkan terima kasih kepada para guru dan pihak sekolah yang telah memfasilitasi berbagai kegiatan, kepada orang tua yang senantiasa mendukung dan mendoakan, serta kepada teman-teman yang selalu memberi semangat. Lebih dari itu, ia menegaskan keyakinan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu terus mencoba dan menaklukkan hal-hal baru di masa depan.

Dengan cita-cita mulia menjadi seorang dosen, Shahnaz memandang pendidikan bukan sekadar jalan meraih prestasi, melainkan sebagai sarana berbagi ilmu dan manfaat bagi sesama.

Kisah prestasi Shahnaz Aliyya Nurfauzi menjadi cerminan nyata keberhasilan pendidikan MI Ma’had Al Zaytun dalam membina generasi berilmu, beriman, dan berkarakter. Melalui proses belajar yang holistik—mengasah akal, menumbuhkan spiritualitas, serta membangun kepekaan sosial—Al Zaytun terus meneguhkan perannya dalam menanam kesadaran pada setiap peserta didik akan potensi dirinya, sehingga kelak mampu menumbuhkan kemanusiaan melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Selasa, 23 Desember 2025

Eksplorasi Harmoni: Keseruan Siswa Kelas 1 Mengenal Alat Musik di Palagan Agung


Al-Zaytun – Suasana belajar siswa kelas 1 terasa berbeda dan lebih bersemangat kali ini. Keluar dari rutinitas ruang kelas, para siswa melaksanakan kegiatan Pembelajaran Luar Kelas (Outdoor Learning) untuk mata pelajaran Kesenian (Seni Musik). Bertempat di area Dome dan Ruang Band Palagan Agung, kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman sensorik langsung bagi anak-anak.

Menanamkan Cinta Budaya Sejak Dini

Tujuan utama dari kegiatan ini bukan sekadar bermain, melainkan agar para pelajar dapat lebih mengenal dan mencintai seni budaya. Melalui musik, siswa diajak untuk mengasah kepekaan rasa, kreativitas, dan rasa percaya diri.

"Kami ingin anak-anak tidak hanya melihat gambar di buku, tapi mendengar dentuman drum, memetik senar gitar, dan merasakan getaran musik secara langsung. Ini adalah cara terbaik menumbuhkan kecintaan pada seni," ujar Amirul Fajar, selaku Tutor utama dalam kegiatan ini.

Kolaborasi Tim Pengajar

Kegiatan ini berjalan tertib dan interaktif berkat pendampingan intensif dari tim guru pengajar yang terbagi dalam beberapa kelompok:

  • Amirul Fajar (Tutor Utama)

  • Norma Yunita (Pendamping B01)

  • Anisa Apriliyanti (Pendamping B02)

  • Annisa Fitria (Pendamping B03)

  • Qurrotan Ayuni (Pendamping B04)

Dari Dome hingga Ruang Band

Kegiatan dimulai di area Dome dengan sesi pengenalan dasar dan olah vokal ringan. Keceriaan memuncak saat siswa memasuki Ruang Band. Di sana, mereka diperkenalkan dengan berbagai instrumen modern seperti drum, gitar listrik, bass, dan keyboard.


Para siswa tampak antusias saat diberi kesempatan untuk mencoba memukul simbal atau menekan tuts keyboard di bawah arahan para guru. Pengalaman "menjadi musisi cilik" dalam sehari ini memberikan kesan mendalam bagi para siswa kelas 1.

Penutup yang Berkesan

Pembelajaran luar kelas ini membuktikan bahwa pendidikan seni yang inklusif dan menyenangkan dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter siswa. Dengan mengenal alat musik secara langsung, diharapkan para siswa memiliki apresiasi yang lebih tinggi terhadap keragaman seni budaya di masa depan.

Senin, 22 Desember 2025

Bukan Sekadar Ujian, MI Ma’had Al Zaytun Latih Kejujuran dan Literasi Digital Sejak Dini


 Al-Zaytun
-- Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang semakin pesat telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih efektif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Pelaksanaan ujian di tingkat Sekolah Dasar selama ini umumnya masih dilakukan secara konvensional menggunakan kertas. Metode tersebut memiliki beberapa keterbatasan, seperti penggunaan kertas yang berlebihan, proses koreksi yang memerlukan waktu lama, serta potensi kesalahan dalam penilaian. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam sistem evaluasi pembelajaran, salah satunya melalui penerapan ujian berbasis komputer atau teknologi.

Ujian berbasis computer (Computer Based Test)di sekolah dasar bertujuan untuk melatih peserta didik dalam mengenal dan menggunakan teknologi sejak dini secara positif dan bertanggung jawab. Selain itu, sistem ini dapat meningkatkan kejujuran siswa, mempercepat proses penilaian, serta menghasilkan data hasil ujian yang lebih akurat dan transparan. Bagi sekolah, ujian berbasis teknologi juga mendukung efisiensi administrasi serta pengelolaan arsip hasil belajar siswa.

Dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi dan tuntutan peningkatan mutu pendidikan, pelaksanaan ujian berbasis komputer di tingkat Sekolah Dasar diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan pendidikan di masa depan, sekaligus mendorong terciptanya sistem evaluasi yang modern, efektif. 

Ujian berbasis komputer di Madrasah Ibtidaiyah Al Zaytun difokuskan pada peserta didik kelas V dan VI karena pada jenjang tersebut siswa telah memiliki kemampuan literasi dasar yang lebih matang, baik dalam membaca, menulis, maupun memahami instruksi. Selain itu, siswa kelas V dan VI umumnya sudah lebih terbiasa menggunakan perangkat teknologi seperti komputer atau laptop dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Dan dari segi kesiapan mental dan kemandirian, siswa kelas V dan VI dinilai lebih mampu mengikuti tata tertib ujian berbasis komputer, mengelola waktu pengerjaan soal, serta bertanggung jawab terhadap penggunaan perangkat yang digunakan. 

Pelaksanaan ujian berbasis komputer pada kelas VI juga berfungsi sebagai bentuk persiapan siswa dalam menghadapi jenjang pendidikan berikutnya yang sebagian besar telah menerapkan sistem ujian berbasis teknologi. Sedangkan ujian untuk peserta didik kelas I sampai IV karena pada jenjang tersebut siswa masih berada pada tahap penguatan kemampuan dasar, terutama dalam membaca, menulis, dan memahami instruksi secara sederhana. Penggunaan media kertas dinilai lebih sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif dan motoriknya. Selain itu, penerapan ujian bertulis membantu peserta didik kelas I–IV untuk lebih fokus pada pemahaman materi tanpa terbebani oleh penggunaan perangkat teknologi yang dapat menimbulkan kecemasan atau kesulitan teknis. Dan dari sisi efektivitas pembelajaran, ujian bertulis juga memungkinkan guru untuk memberikan pendampingan yang lebih optimal sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik. Dari latar belakang tersebut ujian yang dilakasanakan di Madrasah Ibtidaiyah Al Zaytun menetapkan ujian berbasis computer untuk kelas V dan VI sementara ujian bertulis kelas I-IV kebijakan ini dapat mendukung proses evaluasi pembelajaran yang adil, tepat sasaran dan sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.

Pelaksanaan ujian berbasis komputer untuk kelas V dan VI serta ujian tertulis bagi kelas I–IV di MI Ma’had Al Zaytun bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan bagian dari strategi pendidikan yang berangkat dari pemahaman perkembangan peserta didik secara utuh. Kebijakan ini mencerminkan kesadaran bahwa setiap tahap usia memiliki kebutuhan dan kesiapan yang berbeda, baik secara kognitif, emosional, maupun teknologi. Dengan pendekatan yang proporsional dan manusiawi, MI Ma’had Al Zaytun tidak hanya menyiapkan pelajar yang cakap secara akademik, tetapi juga membentuk karakter yang jujur, bertanggung jawab, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Inilah wujud nyata dari komitmen pendidikan Ma’had Al Zaytun dalam Menanam Kesadaran dan Menumbuhkan Kemanusiaan, agar ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan hadir sebagai bekal kehidupan.


Oleh: Ita Rosita, S.Pd., M.Pd. Kepala Bagian Kurikulum MI Ma'had Al Zaytun

Minggu, 21 Desember 2025

Santri Berprestasi MI Ma’had Al Zaytun: Eka Putri Nur Handayani, Dirigen Cilik Penuh Talenta


 MI Ma’had Al Zaytun kembali menorehkan kebanggaan melalui prestasi salah satu santrinya, Ananda Eka Putri Nur Handayani binti Nuryadi, santri kelas 6 B 04, kelahiran Bekasi, 02 Oktober 2017. Ananda Eka merupakan santri asal Bekasi (Koordinator Jakarta Timur) yang dikenal memiliki bakat seni yang menonjol serta prestasi akademik yang konsisten sejak dini.

Sejak kelas 1 hingga kelas 4, Ananda Eka selalu meraih peringkat pertama di kelas, menunjukkan keseimbangan yang baik antara kecerdasan akademik dan pengembangan minat bakat. Di bidang seni, khususnya vokal dan ekspresi panggung, Ananda Eka telah menorehkan berbagai prestasi, di antaranya Juara 2 Vokal Grup MI Cup, Juara 2 Vokal Solo MI Cup, Juara 1 Lomba Mewarnai MI Cup, serta Juara 2 Vokal Solo Fun Colorful Days MI Ma’had Al Zaytun 2. Selain itu, Ananda Eka juga merupakan Hafidz Juz Amma, yang mencerminkan kesungguhan dalam penguatan spiritual sejak usia dini.

Kepercayaan dan ketenangan Ananda Eka dalam memimpin juga tampak ketika ia dipercaya menjadi dirigen Lagu Indonesia Raya di hadapan ribuan aundiens pada berbagai agenda besar di lingkungan Ma’had Al Zaytun, seperti Peringatan 1 Syuro, Hari Ulang Tahun Al Zaytun, Simposium, dan Kuliah Umum. Peran tersebut tidak hanya menuntut keberanian tampil di depan publik, tetapi juga ketepatan, kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan—nilai-nilai yang terus ditanamkan dalam sistem pendidikan MI Ma’had Al Zaytun.

Dalam kesannya, Ananda Eka menyampaikan bahwa pada awalnya ia merasa grogi saat tampil di depan banyak orang. Namun, dengan keberanian untuk terus mencoba dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, rasa percaya dirinya tumbuh. Dukungan dari teman-teman, guru, dan orang tua menjadi kekuatan utama yang mendorongnya untuk terus belajar, berproses, dan meningkatkan kemampuan bernyanyinya. Cita-citanya pun mulia dan penuh semangat, yakni menjadi penyanyi dan aktris yang bermanfaat bagi banyak orang.

Prestasi Ananda Eka menjadi bukti bahwa MI Ma’had Al Zaytun tidak hanya mendidik santri agar unggul secara intelektual, tetapi juga memberi ruang luas bagi tumbuhnya potensi seni, karakter, dan kepemimpinan. Inilah wujud nyata pendidikan yang memanusiakan manusia, sejalan dengan motto Ma’had Al Zaytun: Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan—membangun generasi yang sadar akan potensi dirinya, berkarakter kuat, dan siap memberi kontribusi bagi bangsa dan peradaban.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Sabtu, 20 Desember 2025

MENANAM TANGGUNG JAWAB SEJAK DINI



 Program Bimbingan Pelajar di Jalan MI Ma’had Al Zaytun

MI Ma’had Al Zaytun terus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran sosial pelajar. Salah satu ikhtiar nyata tersebut diwujudkan melalui Program Bimbingan Pelajar di Jalan, yaitu kegiatan pendampingan pelajar saat berangkat dari Asrama Persahabatan menuju sekolah di Gedung Pembelajaran Umar bin Khaththab, serta pendampingan saat pulang sekolah.
Program ini melibatkan pelajar kelas tertinggi, yakni kelas 5 dan 6, yang secara bergiliran bertugas membantu merapikan barisan, mengarahkan adik-adik kelas, serta menjaga ketertiban dan keselamatan selama perjalanan. Setiap harinya, tiga kelas ditugaskan sebagai petugas piket jalan, dengan pendampingan dan pengawasan langsung dari tiga orang guru.


Pendidikan Karakter di Ruang Nyata
Kepala Bagian Kesiswaan MI Ma’had Al Zaytun, Ustadzah Mursyidah Lathifah, S.E., menjelaskan bahwa pelibatan pelajar kelas tertinggi dalam kegiatan ini memiliki tujuan yang sangat mendasar.
“Kegiatan bimbingan jalan dilaksanakan oleh pelajar kelas 5 dan 6 dengan tujuan menanamkan rasa tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan sekolah, serta melatih kedisiplinan dan kepemimpinan pelajar dalam menjaga ketertiban dan keselamatan bersama, khususnya saat jam berangkat dan pulang sekolah.”

Melalui kegiatan ini, pelajar tidak hanya menerima aturan, tetapi belajar menjadi bagian dari penjaga keteraturan itu sendiri. Jalanan sekolah menjadi ruang belajar sosial, tempat nilai disiplin, empati, dan tanggung jawab dipraktikkan secara langsung.

Mengapa Kelas Tertinggi?
Pemilihan pelajar kelas 5 dan 6 sebagai petugas pembimbing jalan bukan tanpa alasan. Menurut Ustadzah Mursyidah, pelajar kelas tertinggi dinilai telah memiliki kesiapan yang lebih matang.
“Pelajar kelas tertinggi dinilai telah memiliki kedewasaan, pemahaman aturan sekolah, serta kemampuan fisik dan mental yang lebih siap. Selain itu, mereka dapat menjadi teladan bagi adik kelas dalam sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah.”
Dengan demikian, program ini juga berfungsi sebagai proses kaderisasi kepemimpinan, di mana pelajar belajar memimpin bukan dengan perintah, tetapi dengan keteladanan.


Evaluasi sebagai Budaya Belajar
Usai melaksanakan tugas pembimbingan di jalan, para petugas dari kelas tertinggi mengadakan evaluasi bersama guru pembimbing di depan Gedung Pembelajaran Umar bin Khaththab. Evaluasi ini menjadi ruang refleksi untuk membahas hal-hal yang sudah berjalan baik, kendala yang ditemui, serta sikap yang perlu diperbaiki ke depan.
Budaya evaluasi ini menegaskan bahwa setiap tugas adalah proses belajar, bukan sekadar rutinitas.

Harapan Jangka Panjang
Melalui Program Bimbingan Pelajar di Jalan, MI Ma’had Al Zaytun berharap dapat:
Menciptakan lingkungan sekolah yang tertib, aman, dan kondusif
Menumbuhkan kesadaran berlalu lintas dan keselamatan sejak dini
Membentuk pelajar yang peduli, disiplin, dan bertanggung jawab
Membekali pelajar dengan nilai-nilai sosial yang berguna dalam kehidupan bermasyarakat
Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus disampaikan di dalam kelas, tetapi dapat tumbuh kuat melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup
Sejalan dengan motto Al Zaytun, “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan”, program bimbingan pelajar di jalan ini menjadi sarana efektif untuk menanamkan kesadaran sosial sekaligus menumbuhkan rasa kemanusiaan sejak usia dini. Dari langkah-langkah kecil di jalan sekolah, tumbuh pribadi-pribadi besar yang siap menjaga keteraturan, keselamatan, dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Kamis, 18 Desember 2025

Menjaga Kebersihan, Menumbuhkan Karakter: Program Kebersihan Lingkungan MI Ma’had Al Zaytun



 MI Ma’had Al Zaytun secara konsisten menanamkan kesadaran kebersihan lingkungan sebagai bagian dari pendidikan karakter peserta didik. Melalui Bidang Kesiswaan, salah satu divisi yang berperan aktif adalah Divisi Kebersihan, yang merancang dan melaksanakan berbagai program kebersihan sekolah. Program ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan nyaman, sekaligus membiasakan pelajar hidup tertib dan bertanggung jawab sejak usia dini. Hal ini disampaikan oleh Penanggung Jawab Kebersihan MI Ma’had Al Zaytun, Ustadzah Norma Yunita Sila, S.Pd.

Salah satu kegiatan utama adalah Piket Kebersihan Kelas, yang dilaksanakan secara terjadwal dan bergilir oleh peserta didik. Dalam kegiatan ini, siswa dilatih membersihkan ruang kelas secara menyeluruh, mulai dari menyapu, mengepel, membersihkan papan tulis dan jendela, membuang sampah, merapikan meja kursi, hingga menjaga kebersihan kamar mandi. Melalui piket ini, kebersihan tidak dipahami sebagai tugas petugas tertentu, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang harus dijaga setiap hari.



Selain itu, MI Ma’had Al Zaytun juga melaksanakan Piket Bakti Lingkungan, yaitu kegiatan bersih-bersih yang melibatkan siswa, guru, dan staf secara bersama-sama. Kegiatan ini dilakukan secara berkala, baik mingguan maupun bulanan, dengan fokus pada pembersihan kotoran burung, toilet sekolah, halaman, selokan, taman, dan area lingkungan lainnya. Melalui bakti lingkungan, peserta didik belajar tentang gotong royong, kepedulian, dan kerja kolektif dalam menjaga ruang bersama.

Untuk memperkuat kesadaran, sekolah juga menjalankan edukasi dan kampanye kebersihan, antara lain melalui pemasangan poster kebersihan di mading, sosialisasi perilaku hidup bersih oleh guru, serta pelaksanaan lomba kebersihan kelas. Program ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dan partisipatif, sehingga pesan kebersihan dapat diterima dan dipraktikkan secara nyata oleh peserta didik.




Program kebersihan sekolah memiliki banyak manfaat penting. Lingkungan yang bersih membantu menjaga kesehatan bersama, mencegah penyebaran penyakit, dan menciptakan suasana belajar yang nyaman. Keterlibatan siswa dalam kegiatan kebersihan juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus memperkuat kerja sama dan kebersamaan antarwarga sekolah. Lebih dari itu, kebersihan menjadi sarana pendidikan karakter, membentuk sikap mandiri, peduli, serta menghargai fasilitas umum, sekaligus menjaga citra sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas dan berbudaya lingkungan.


Sebagai bentuk penguatan dan apresiasi, MI Ma’had Al Zaytun juga mengadakan lomba kebersihan disertai pemberian piagam dan hadiah kepada kelas atau siswa yang menunjukkan komitmen terbaik. Lomba ini berfungsi memotivasi siswa agar lebih semangat menjaga kebersihan, menanamkan kebiasaan hidup bersih sejak dini, serta menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat. Penghargaan yang diberikan menjadi pengakuan atas usaha dan kerja keras siswa, sekaligus mendorong kekompakan dan tanggung jawab bersama.


Seluruh rangkaian kegiatan kebersihan ini sejalan dengan motto pendidikan Ma’had Al Zaytun, “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan.” Dengan menjaga kebersihan lingkungan sekolah, peserta didik tidak hanya belajar merawat ruang fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran diri, kepedulian sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka di masa depan.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Rabu, 17 Desember 2025

Ujian Praktik MI Ma’had Al Zaytun: Menilai Ilmu, Menguji Keterampilan, Menumbuhkan Kesadaran

 MI Ma’had Al Zaytun melaksanakan Ujian Praktik sebagai bagian dari rangkaian Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) Ganjil Tahun Pembelajaran 2025–2026, yang berlangsung pada 15–20 Desember 2025. Ujian praktik ini dirancang untuk mengukur kemampuan peserta didik secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga pada keterampilan dan pengamalan ilmu dalam kehidupan nyata. Pelaksanaan ujian dilakukan baik di dalam ruang kelas maupun di luar kelas, menyesuaikan karakter mata pelajaran yang diujikan.

Pelajar mengisi Kuesioner secara digital. 

Materi ujian praktik untuk kelas 1 hingga 4 meliputi: Olahraga, Kesenian, Fiqih Ibadah, Qiroah, Tahfidz Juz Amma, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris. Sementara itu, untuk kelas 5 dan 6, selain mata pelajaran tersebut, ditambahkan ICT (Information and Communication Technology) sebagai bentuk penguatan literasi teknologi sejak dini. Ragam materi ini mencerminkan komitmen MI Ma’had Al Zaytun dalam membangun keseimbangan antara kecakapan jasmani, seni, spiritualitas, bahasa, dan teknologi.

Praktik olahraga bentuk kesadaran diri untuk menjaga kesehatan diri.

Ketua Panitia ASAS, Ustadzah Ai Nurlaela, S.Pd., menjelaskan bahwa asesmen praktik merupakan proses evaluasi yang menilai kemampuan unjuk kerja peserta didik, bukan semata penguasaan teori. Penilaian difokuskan pada kualitas proses dan hasil kerja sesuai standar yang ditetapkan. “Melalui asesmen praktik, kami dapat melihat kekuatan dan kelemahan peserta didik, mengukur pencapaian kompetensi, sekaligus memberikan umpan balik yang bermakna untuk perbaikan pembelajaran ke depan,” ungkap beliau. Dengan demikian, asesmen tidak berhenti pada angka, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang membangun.

Mencintai seni budaya dan melestarikannya.

Selain ujian praktik, MI Ma’had Al Zaytun juga melaksanakan pengisian angket Bimbingan Konseling (BK) oleh tim guru BK. Kuesioner ini bertujuan membantu peserta didik mengenali dan mengungkapkan berbagai kesulitan yang mereka hadapi—baik akademik, sosial, maupun emosional—secara aman dan reflektif. Data yang terkumpul menjadi dasar penting bagi guru dan konselor untuk memberikan layanan bimbingan yang tepat sasaran, sekaligus mendeteksi dini potensi masalah yang membutuhkan pendampingan khusus.


Keseluruhan rangkaian kegiatan ASAS ini sejalan dengan motto pendidikan Ma’had Al Zaytun, “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan.” Ujian praktik dan angket BK tidak hanya membentuk peserta didik agar piawai dalam keilmuan, tetapi juga terampil dalam praktik, sadar akan potensi dan tantangan dirinya, serta tumbuh sebagai manusia yang utuh—berilmu, berakhlak, dan mampu mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan nyata.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun



Senin, 15 Desember 2025

Ujian ASAS Hari Kedua: Menguji Kecerdasan Fisik, Spiritual, dan Digital


Selasa, 16 Desember 2025 menandai hari kedua pelaksanaan Ujian ASAS (Asesmen Standar Akhir Sekolah) yang berlangsung dengan jadwal padat dan beragam. Berbeda dengan format ujian konvensional, hari kedua ini menyoroti pendekatan penilaian yang holistik, mencakup aspek fisik, spiritual, artistik, hingga kemahiran teknologi.

Pelaksanaan Ujian ASAS pada hari ini menunjukkan komitmen institusi pendidikan dalam menilai kemampuan siswa secara komprehensif, tidak hanya terbatas pada penguasaan materi akademik di kelas.

Ragam Ujian Lintas Kompetensi

Berikut adalah rincian fokus penilaian untuk setiap tingkatan kelas:

Kelas 1 dan 2: Olahraga - Mengasah Kebugaran Jasmani

Siswa Kelas 1 memulai hari kedua Ujian ASAS dengan sesi Olahraga. Penilaian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kebugaran, motorik kasar, serta pemahaman siswa terhadap disiplin dan kerja sama tim. Aspek fisik menjadi fondasi penting bagi perkembangan anak usia dini, dan ujian ini memastikan siswa memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kesehatan jasmani.



Kelas 3: Tes Hafalan Surat Pendek - Penguatan Nilai Spiritual

Kelas 2 dan Kelas 3 dijadwalkan mengikuti Tes Hafalan Surat Pendek. Ujian lisan ini merupakan komponen krusial dalam pendidikan karakter dan keagamaan. Melalui tes hafalan ini, sekolah tidak hanya mengevaluasi memori siswa tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, disiplin, dan kecintaan terhadap ajaran agama sejak dini.

Kelas 4: Kesenian - Ekspresi Kreatif dan Soft Skill

Aspek kreativitas mendapat panggung di Kelas 4 dengan pelaksanaan ujian Kesenian. Penilaian ini memungkinkan siswa untuk menunjukkan bakat dan ekspresi diri melalui berbagai medium seni. Kesenian sangat penting untuk mengembangkan pemikiran divergen, apresiasi estetika, dan kemampuan problem-solving non-akademik.

Kelas 5: Ujian CBT - Literasi Digital dan Efisiensi

Siswa Kelas 5 menghadapi tantangan modern dengan melaksanakan Ujian CBT (Computer-Based Test). Penerapan CBT mencerminkan adaptasi sekolah terhadap kemajuan teknologi, melatih literasi digital siswa, dan memastikan proses ujian berjalan lebih efisien, akurat, dan ramah lingkungan. Ujian CBT umumnya menguji kemampuan siswa dalam mata pelajaran inti secara terintegrasi.

Kelas 6: Qiroah Kitabah - Puncak Kemahiran Literasi

Sebagai kelas tertinggi, siswa Kelas 6 diuji melalui Qiroah Kitabah, yang berarti Kemampuan Membaca dan Menulis (Literasi). Ini adalah ujian fundamental untuk mengukur kematangan siswa dalam memahami teks kompleks (Qiroah) dan menuangkan gagasan secara terstruktur dan koheren melalui tulisan (Kitabah). Keahlian ini menjadi bekal utama mereka untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Kesimpulan

Pelaksanaan Ujian ASAS hari kedua, Selasa, 16 Desember 2025, berhasil menunjukkan wajah pendidikan yang progresif. Dengan memadukan Olahraga, Tes Hafalan, Kesenian, Ujian CBT, dan Qiroah Kitabah dalam satu hari, sekolah memastikan bahwa setiap siswa dinilai berdasarkan potensi mereka yang beragam, menyiapkan mereka menjadi individu yang seimbang, kompeten, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Minggu, 14 Desember 2025

Penanaman Karakter Sejak Dini: Pelajar MI Al Zaytun Laksanakan Ujian ASAS dengan Tujuan Kesadaran dan Kemanusiaan

Indramayu, 15 Desember 2025 — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Zaytun menggelar Ujian Akhir Semester (ASAS) untuk semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Kegiatan ini secara resmi dimulai pada hari Senin, 15 Desember 2025. Namun, yang menjadikan ujian ini istimewa adalah tujuan yang diusungnya: meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan jiwa kemanusiaan dari sejak dini di kalangan para pelajar. Tujuan Edukasi yang Melampaui Nilai Akademis ASAS di MI Al Zaytun bukan sekadar ajang evaluasi kognitif, melainkan juga instrumen untuk mengukur sejauh mana internalisasi nilai-nilai karakter, khususnya kepedulian sosial (humanisme), telah tertanam dalam diri siswa.

Pelajar Level Atas melaksanakan tes ICT Pembuatan Poster secara digital.
 
Integrasi Nilai Kemanusiaan dalam Mata Pelajaran Dalam pelaksanaannya, ujian ini melibatkan semua mata pelajaran, baik umum maupun agama. Sebagai contoh, pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), terdapat kasus studi mengenai pentingnya zakat, infak, dan sedekah, serta bagaimana dampak sosialnya. Sementara itu, pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), soal-soal diarahkan pada solusi kreatif untuk masalah kemiskinan atau bencana alam. Metode ini diharapkan dapat membentuk kerangka berpikir bahwa ilmu yang dipelajari harus memiliki manfaat nyata dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Harapan Masa Depan: Generasi Peduli dan Bertanggung Jawab Pelaksanaan ASAS dengan fokus pada pembangunan karakter ini sejalan dengan visi Al Zaytun untuk mencetak kader bangsa yang memiliki jiwa ’Rahmatan lil ‘Alamin’ (rahmat bagi seluruh alam).

Pelajar Level bawah melaksanakan tes Qiro'ah.

 Diharapkan, lulusan MI Al Zaytun akan menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki inisiatif tinggi dalam aksi kemanusiaan dan pembangunan sosial.
ASAS semester ganjil ini dijadwalkan berlangsung selama 12 hari, di mana seluruh pelajar berkomitmen untuk menjalani proses ini dengan jujur dan penuh kesadaran akan tujuan luhurnya.

Rabu, 10 Desember 2025

MI Ma’had Al-Zaytun Laksanakan Program BIAS Bersama Puskesmas Gantar

 Wujud Sinergi Kesehatan & Pendidikan untuk Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan

Pada Kamis, 11 Desember 2025, MI Ma’had Al-Zaytun kembali melaksanakan Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Gantar, Indramayu. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Laboratorium MI Al-Zaytun ini berjalan tertib sejak pukul 08.15 hingga 10.45, melibatkan 6 tenaga kesehatan Puskesmas dan 2 tenaga kesehatan Ma’had. Program BIAS merupakan agenda nasional Kementerian Kesehatan yang bertujuan meningkatkan perlindungan anak sekolah terhadap penyakit menular, khususnya melalui vaksin DT (Difteri–Tetanus) dan TD untuk siswa kelas 2 dan 5.

Pelaksanaan Vaksin pelajar di dampingi Wali Kelas

Adapun capaian imunisasi hari ini adalah:


Kelas 1: 44 dari 58 siswa berhasil divaksin


Kelas 2: 102 dari 120 siswa berhasil divaksin


Kelas 5: 156 dari 183 siswa berhasil divaksin

Sebanyak 59 siswa belum dapat divaksin karena alasan kesehatan dan faktor lain yang akan ditindaklanjuti sesuai prosedur. Secara umum, kegiatan berlangsung lancar, tertib, dan penuh kolaborasi antara tim kesehatan dan para ustadz–ustadzah yang mendampingi.


Pelajar Kelas level atas tampak gagah saat pelaksanaan vaksin.

Tim kesehatan dari Puskesmas Gantar memberikan apresiasi tinggi terhadap kesiapan dan respons cepat Ma’had Al-Zaytun sejak awal persiapan hingga pelaksanaan. Bidan Yudhisrawati, pelaksana program imunisasi sejak 2014, menyampaikan bahwa Al-Zaytun selalu fast response, komunikatif, dan sangat kooperatif meski anak-anak berasal dari berbagai daerah dan latar belakang berbeda. Hal serupa disampaikan oleh Bidan Neneng Aminah, yang menilai komunikasi, koordinasi, dan pendampingan dari para guru berjalan sangat baik, sehingga tidak ada kendala berarti. Sementara Devi Febriani, Amd.Keb., menambahkan bahwa alur pelaksanaan rapi — mulai dari screening, vaksinasi, hingga selesai — dan peserta didik bekerja sama dengan baik meski beberapa masih merasa takut.


Foto bersama petugas Puskesmas bersama Kepala Madrasah dan Pelajar MI

Tidak kalah berharga adalah suara dari para peserta vaksin sendiri. Princella Aurora Michaela (kelas 1 B01) dengan polos mengatakan bahwa suntikan “seperti digigit semut” dan ia siap divaksin lagi bila ada. Hisyam Falah Abdillah (kelas 2B03) pun merasakan hal serupa dan menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan. Fachri Ibni Naafi (kelas 5B04) memahami vaksin sebagai “obat atau vitamin” untuk menjaga daya tahan tubuh, dan ia bangga berani divaksin tanpa rasa sakit berarti. Suara jujur dan positif dari anak-anak ini menunjukkan tumbuhnya pemahaman bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar dan kedewasaan.


Secara keseluruhan, kegiatan BIAS hari ini berjalan sangat baik, tertib, dan penuh dukungan dari semua pihak. Keberhasilan ini menjadi salah satu bentuk nyata dari visi Ma’had Al-Zaytun: “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan.” Melalui vaksinasi, anak-anak tidak hanya dilindungi dari penyakit, tetapi juga diajarkan tentang pentingnya kesehatan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial. Sinergi antara lembaga pendidikan dan layanan kesehatan seperti ini menjadi langkah komprehensif dalam  menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan siap menjadi bagian dari masa depan Indonesia yang lebih baik.


Ditulis oleh: Mochamad Iqbal Aulia S.Sos. dan Muhammad Mairzial, M.Pd.