Jumat, 30 Januari 2026

Kurikulum L-STEAMS Menuju Basyaran Sawiyya: Merajut Akidah, Pendidikan, dan Keindonesiaan

 Rapat Kurikulum L-STEAMS yang dilaksanakan pada Kamis, 29 Januari 2026 di Ruang Khos Masjid Rahmatan lil ‘Alamin Ma’had Al Zaytun menjadi momentum penting dalam pematangan arah pendidikan berbasis peradaban. Pertemuan ke-3 ini dipimpin langsung oleh Syaykh Al Zaytun dan dihadiri unsur Yayasan, Majelis Guru, Kepala Satuan Pendidikan, serta para pengampu kurikulum lintas jenjang. Fokus utama rapat adalah menegaskan fondasi Kurikulum L-STEAMS sebagai sistem pendidikan yang menyatukan hukum Ilahi, keilmuan, seni, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas.

Syaykh menegaskan bahwa L dalam L-STEAMS adalah fondasi tertinggi, yakni Law—hukum Ilahi—yang harus menjadi landasan seluruh mata pelajaran. L bukan sekadar satu mata ajar, melainkan ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan. Karena itu, L disiapkan secara khusus oleh Syaykh, sementara unsur STEAMS lainnya dikembangkan secara terpadu oleh para guru. Kurikulum ini tidak dimaksudkan sebagai tiruan model Barat, tetapi sebagai sistem yang berangkat dari pengalaman sejarah, nilai Al-Qur’an, dan realitas kebangsaan Indonesia.

Dalam pemaparannya, Syaykh mengajak seluruh peserta rapat untuk mendefinisikan ulang akidah. Akidah tidak berhenti pada rukun iman semata, tetapi diperluas menjadi keyakinan terhadap keberadaan tanah air, bangsa, dan bahasa. Keindonesiaan harus diakidahi. Dari sinilah Syaykh menempatkan Indonesia Raya tiga stanza sebagai road map peradaban, sejajar dengan konsep akidah dan syariah: akidah sebagai keyakinan, syariah sebagai jalan (road map), dan pendidikan sebagai kendaraan menuju keabadian bangsa.

Sejarah kemudian dihadirkan bukan sebagai glorifikasi, melainkan
sebagai bahan refleksi kritis. Syaykh mencontohkan bagaimana Stalin—yang sering digambarkan buruk oleh narasi Barat—justru memiliki kekuatan ashobiyah (solidaritas kolektif) yang mampu menyelamatkan Uni Soviet dari kehancuran total. Dari sini, konsep ashobiyah Ibnu Khaldun diangkat sebagai kunci lahirnya peradaban: tanpa solidaritas, tidak ada kemajuan; namun ketika solidaritas melemah, peradaban akan runtuh oleh individualisme, hedonisme, dan korupsi. Dalam konteks Indonesia, ashobiyah itu bernama gotong royong.

Syaykh menekankan bahwa pendidikan Al Zaytun tidak boleh tercerabut dari realitas geopolitik dan peradaban dunia. Korea Utara, Iran, Rusia, hingga Indonesia dibahas sebagai contoh bagaimana bangsa yang memiliki akidah kebangsaan mampu bertahan dari tekanan global. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berdiri—bukan sekadar “penduduk”. Sebagaimana makna qiyaman dalam Al-Qur’an, berdiri berarti siap bergerak, melawan, dan membangun.

Dalam aspek implementasi kurikulum, Syaykh menegaskan bahwa Art (A) dalam L-STEAMS bukan sekadar seni musik atau tari, melainkan hindam—keindahan cara menyampaikan ilmu. Sains, teknologi, matematika, dan bahkan hukum harus disampaikan dengan rasa, estetika, dan keluwesan agar menjadi rozīn: anggun, enak dipandang, dan manusiawi. Karena itu, seluruh materi akan disiapkan dalam format trilingual bahkan kuadrilingual (Indonesia, Arab, Inggris, dan Latin) sebagai wujud global education yang berakar pada identitas nasional.

Perhatian khusus diberikan pada PAUD sebagai fondasi utama. Syaykh menegaskan bahwa peserta didik usia dini tidak disebut “siswa”, melainkan “tunas”—simbol pertumbuhan dan harapan masa depan. Penilaian pada jenjang ini tidak boleh berupa angka, melainkan narasi deskriptif yang lahir dari pengamatan harian guru. PAUD harus diampu oleh guru-guru berpengalaman, karena di sinilah watak, rasa, dan dasar kemanusiaan ditanamkan.

Kurikulum L-STEAMS juga ditegaskan sebagai kurikulum yang hidup. Ia dapat berubah, diperbaiki, dan disempurnakan sesuai kebutuhan zaman, selama tidak keluar dari azas: Indonesia Raya tiga stanza dan Sumpah Pemuda. Kurikulum pemerintah digunakan untuk kepentingan administratif, tetapi ruh dan konten dikembangkan secara mandiri. Inilah bentuk kedaulatan pendidikan.

Sebagai penutup, Syaykh menegaskan tujuan akhir Kurikulum L-STEAMS: melahirkan Basyaran Sawiyya—manusia yang seimbang (balanced), moderat, dan beragam kemampuannya. Bukan insan kamil yang sempurna secara utopis, melainkan manusia nyata yang berakidah kuat, berilmu, beretos kerja, berjiwa seni, berkesadaran sosial, dan berkomitmen pada keabadian bangsa. Kurikulum ini bukan sekadar dokumen, melainkan ikhtiar peradaban untuk mempertahankan Indonesia melalui pendidikan.

Kamis, 29 Januari 2026

Dzikir Jum’at Syaykh Al Zaytun: Menyambut Ramadhan dengan Kemandirian, Menghidupkan Tanah, dan Mendidik Peradaban

 

Disarikan dari Dzikir Jum'at Syaykh Al Zaytun, 30 Januari 2026

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.

Dzikir Jum’at Syaykh Al Zaytun pada Jumat, 30 Januari 2026, menegaskan kembali arah besar Ma’had Al Zaytun dalam menyambut bulan suci Ramadhan sekaligus membangun kemandirian pendidikan dan ekonomi berbasis ekologi. Syaykh menyampaikan bahwa paruh kedua bulan Februari diperkirakan telah memasuki bulan Ramadhan, sehingga seluruh warga Ma’had perlu mempersiapkan program ibadah sejak dini. Tadarrus Al-Qur’an, pengaturan aktivitas Ramadhan, serta pelaksanaan shaum yang tertib dan bermakna harus dirancang dengan kesadaran bersama, termasuk pengaturan akademik yang tetap berjalan namun fleksibel melalui musyawarah.

Dalam dzikir tersebut, Syaykh juga mengarahkan perhatian besar pada program strategis tahun 2026, yaitu fabrikasi pupuk organik mandiri. Unsur utama pupuk organik ini berasal dari serasah daun yang selama ini berserakan di lingkungan kampus. Melalui koordinasi Organisasi Pelajar Ma’had Al Zaytun (OPMAZ), para pelajar akan dilibatkan secara aktif untuk mengumpulkan serasah daun setiap hari, baik per kelas maupun per asrama. Daun-daun tersebut akan dikumpulkan di titik tertentu untuk kemudian diolah menjadi pupuk organik cair dan padat. Langkah ini tidak hanya menjadikan lingkungan kampus lebih bersih, tetapi juga mengubah limbah alami menjadi sumber daya yang bernilai.

Selain serasah daun, sumber pupuk organik juga berasal dari sisa-sisa rumah tangga kampus seperti kulit telur, air cucian beras, sisa makanan, serta bahan organik lainnya. Bahkan para guru pun diarahkan untuk berpartisipasi dengan membawa daun hijau segar setiap hari. Semua unsur ini akan diolah menjadi pupuk yang dapat diserap secara optimal oleh akar dan daun tanaman pangan, baik yang berasal dari sawah maupun kebun.

Target besar Ma’had Al Zaytun pada tahun 2026 adalah penggunaan pupuk organik hingga 90 persen. Langkah ini menjadi sangat signifikan mengingat jumlah tanaman yang dikelola mencapai puluhan ribu pohon perkebunan dan sekitar 400 hektare lahan padi. Jika mengandalkan pupuk kimia impor, biaya yang dibutuhkan sangat besar dan tidak efisien, terlebih semakin besar tanaman maka semakin besar pula kebutuhan pupuknya. Sebaliknya, pupuk organik tidak hanya lebih hemat, tetapi juga menghasilkan kualitas tanah dan tanaman yang lebih baik.

Syaykh menekankan bahwa pupuk organik berfungsi utama untuk menata dan menghidupkan kembali tanah Indonesia yang telah lama mengalami degradasi dan disebut sebagai “tanah mati”. Melalui prinsip fiqih ihya’ul mawat—menghidupkan tanah mati—tanah perkebunan yang mencapai ratusan hektare ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai komoditas yang menyejahterakan. Inilah bentuk nyata dari kemandirian: kemandirian pangan, kemandirian ekonomi, dan kemandirian pendidikan.

Dzikir Jum’at ini menegaskan bahwa mempertahankan bangsa dan negara tidak hanya dilakukan melalui wacana, tetapi melalui pendidikan yang membumi dan penataan ekonomi yang berakar pada alam. Menghidupkan tanah berarti menghidupkan manusia; mendidik manusia berarti menyiapkan peradaban. Dari Ramadhan yang dipersiapkan dengan kesadaran spiritual hingga pengelolaan pupuk organik yang sistematis, Ma’had Al Zaytun terus melangkah dalam satu arah: membangun peradaban yang mandiri, berkelanjutan, dan manusiawi.


Minggu, 25 Januari 2026

Ashobiyah, Pendidikan, dan Indonesia Raya

 Simpulan dan Arahan Syaykh Al Zaytun pada Pelatihan Pelaku Didik ke-34


  Pada Pelatihan Pelaku Didik ke-34 yang dilaksanakan 25 Januari 2026, Syaykh Al Zaytun menyampaikan simpulan dan arahan strategis sebagai refleksi atas materi yang dipaparkan oleh Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D. Syaykh mengawali dengan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kontribusi keilmuan yang telah membuka ruang diskusi tentang masyarakat, ekonomi, dan peradaban.

Syaykh kemudian mengajak peserta kembali pada fondasi pemikiran Ibnu Khaldun, tokoh besar yang dikenal sebagai bapak sosiologi dunia. Dalam teorinya, Ibnu Khaldun menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial, dan modal utama terbentuknya peradaban adalah ashobiyah—yakni solidaritas sosial yang kuat. Tanpa ashobiyah, peradaban tidak akan lahir, apalagi berkembang. Syaykh mengkritisi secara nalar hadis yang diriwayatkan Abu Dawud tentang kematian dalam perjuangan ashobiyah sebagai kematian jahiliyah. Menurut Syaykh, pemahaman terhadap teks keagamaan harus menggunakan nalar dan konteks, sebab hadis tersebut muncul ratusan tahun setelah hijrah dan tidak bisa dilepaskan dari situasi sosial-politik zamannya.

Ashobiyah, dalam pandangan peradaban, bukan sekadar fanatisme buta, melainkan solidaritas kolektif yang menjadi energi pembentuk masyarakat dan negara. Namun Syaykh juga mengingatkan bahwa ketika peradaban mencapai puncak, ashobiyah bisa terkikis, berganti menjadi individualisme, hedonisme, dan korupsi. Di titik inilah peradaban mulai meluncur turun. Sejarah bangsa-bangsa di dunia menjadi bukti atas siklus ini.

Indonesia, menurut Syaykh, adalah contoh nyata keberhasilan teori Ibnu Khaldun dalam skala yang lebih luas. Negara ini tidak dibangun oleh satu suku atau satu kelompok, melainkan oleh ratusan suku bangsa yang melebur menjadi satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Inilah ashobiyah Indonesia. Roadmap peradaban Indonesia itu, kata Syaykh, terangkum secara filosofis dalam Anthem Indonesia Raya tiga stanza. Gotong royong adalah bahasa ashobiyah bangsa Indonesia.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,” tegas Syaykh, menekankan bahwa pendidikan dan infrastruktur harus berjalan seiring demi Indonesia Raya. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu di siang hari, sementara nilai dan moral runtuh di malam hari. Tanpa pendidikan jiwa, pembangunan fisik kehilangan arah.

Stanza kedua Indonesia Raya mengajarkan bahwa Indonesia adalah tanah mulia dan kaya. Memuliakan Indonesia adalah tugas bangsa Indonesia sendiri, bukan Amerika atau kekuatan imperialis mana pun. Ketika bangsa kehilangan ashobiyah terhadap negerinya, itu sama dengan pengkhianatan terhadap peradaban. Stanza ketiga menegaskan Indonesia sebagai tanah suci dan sakti. Kesucian dan kesaktian tanah air tidak datang dari bangsa lain, termasuk Arab Saudi, yang justru sering meminta bangsa lain mensucikan tanah mereka melalui ritual ibadah.

Syaykh mengingatkan bahwa penjajahan masa lalu terjadi karena bangsa ini belum terdidik. Hari ini, penjajahan hadir dalam bentuk baru melalui sistem global dan aliansi seperti NATO, yang membuat bangsa-bangsa lemah dijajah tanpa sadar. Karena itu, peradaban tidak boleh mundur. Bangsa Indonesia harus terus maju melalui pendidikan yang membangun manusia secara utuh.

Pendidikan berasrama menjadi salah satu solusi strategis, karena memungkinkan pembentukan masyarakat oleh sistem pendidikan, bukan sebaliknya. Dari sinilah gagasan besar membangun 500 pusat pendidikan di 500 kabupaten dan kota di Indonesia kembali ditegaskan. Pendidikan vokasi dan politeknik harus diperbanyak, dengan sistem terpadu yang mencakup guru, dosen, fasilitas, dan lingkungan pembelajaran dalam satu kawasan. Menurut Syaykh, investasi ini hanya membutuhkan sekitar 20 persen anggaran negara, namun hasilnya adalah sumber daya manusia yang tidak akan pernah habis.

Di akhir arahannya, Syaykh menegaskan bahwa Indonesia Raya bukan sekadar lagu kebangsaan, melainkan manifestasi teori peradaban Ibnu Khaldun dalam konteks Indonesia. Bangsa ini harus menjaga ruh kemerdekaannya. Zaman tidak boleh dipaksa berubah, sebab setiap zaman memiliki ruhnya sendiri. Alam semesta dan manusia berada dalam satu kesatuan di bawah Rabbul ‘Alamin. Jika keseimbangan itu dirusak, alam akan “menyikat” manusia.

Dengan demikian, pendidikan bukan hanya urusan sekolah, melainkan proyek peradaban. Melalui ashobiyah yang tercerahkan, pendidikan yang membangun jiwa dan raga, serta kesadaran kolektif sebagai bangsa, Indonesia diharapkan benar-benar menjadi Indonesia Raya yang abadi.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Jumat, 23 Januari 2026

Kliwonan Ma’had Al Zaytun: Tradisi Jawa, Spirit Al-Qur’an, dan Kesadaran Peradaban

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun



Ma’had Al Zaytun secara konsisten merawat tradisi spiritual yang berakar pada kebudayaan Nusantara melalui kegiatan Kliwonan, yang dilaksanakan setiap malam Jum’at Kliwon. Tradisi Jawa ini dihidupkan dengan muatan nilai-nilai keislaman yang mendalam sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT, sekaligus ikhtiar merawat kesadaran ruhani dan kebudayaan secara berimbang. Pada Kamis malam, 22 Januari 2026, giliran guru-guru MI Ma’had Al Zaytun yang mendapatkan amanah untuk mengisi kegiatan Kliwonan melalui khataman Al-Qur’an secara berjamaah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan Ummul Kitab (Surah Al-Fatihah) sebagai penanda penyatuan niat dan doa. Inti kegiatan Kliwonan adalah khataman Al-Qur’an 30 juz, yang dibacakan oleh 30 qori, masing-masing menyelesaikan satu juz Al-Qur’an. Khataman ini bukan sekadar pembacaan teks suci, tetapi simbolisasi bahwa Al-Qur’an adalah rujukan hukum utama kehidupan, sebagai Hudan (petunjuk), Bayyinah (penjelas), dan Furqan (pembeda antara yang benar dan salah).

Setelah khataman, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Asmaul Husna dan Asmaun Nabi 201, yang diakhiri dengan doa bersama. Rangkaian ini menegaskan bahwa pendidikan dan pengabdian di Al Zaytun tidak dilepaskan dari kesadaran ketuhanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pusat nilai. Acara kemudian ditutup secara resmi, dan dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana berupa sajian snack dan kue muih, sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan kemanusiaan yang hangat.

Kliwonan di Ma’had Al Zaytun menunjukkan bagaimana tradisi lokal tidak dipertentangkan dengan Islam, melainkan diisi, dimaknai, dan ditinggikan nilainya. Inilah wajah Islam sebagai peradaban, yang mampu merangkul budaya, bukan menghapusnya; memandu tradisi, bukan memusnahkannya. Kegiatan ini juga menjadi sarana menanam kesadaran filosofis, bahwa hidup tidak hanya diukur dari produktivitas fisik, tetapi juga dari kedalaman makna, orientasi nilai, dan hubungan manusia dengan Tuhan serta sesamanya.

Melalui Kliwonan, Ma’had Al Zaytun menegaskan kembali komitmennya dalam Menanam Kesadaran Menumbuhkan Kemanusiaan—bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dihadirkan sebagai pusat kesadaran hidup, sumber etika, dan fondasi peradaban yang manusiawi, berakar, dan berkelanjutan.



Kamis, 22 Januari 2026

Menggali Potensi Seni Musik Pelajar MI Ma’had Al Zaytun dalam Bingkai Kurikulum L-STEAMS


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun


 MI Ma’had Al Zaytun menaruh perhatian serius pada pengembangan seni musik sebagai bagian integral dari pendidikan pelajar. Beragam cabang musik diajarkan secara sistematis dan berjenjang, meliputi gitar, bas, drum, biola, rebana (terbangan), keyboard, dirigen, vokal, hingga angklung. Keragaman ini menunjukkan bahwa pendidikan seni di MI Ma’had Al Zaytun tidak diarahkan pada satu genre semata, melainkan membangun wawasan musikal yang luas, seimbang antara musik modern dan musik tradisional.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Syaykh Al Zaytun tentang pentingnya keseimbangan kontemporer–tradisional yang adil dan manusiawi. Musik modern seperti gitar, keyboard, dan drum berjalan berdampingan dengan seni tradisi seperti rebana dan angklung. Keduanya tidak dipertentangkan, tetapi dipertautkan sebagai kekayaan budaya dan ekspresi peradaban. Dengan cara ini, pelajar tidak tercerabut dari akar budayanya, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dalam kerangka Kurikulum L-STEAMS, seni musik berada pada domain Art, namun tidak berdiri sendiri. Musik melatih disiplin (Law) melalui keteraturan ritme dan kepatuhan pada komposisi, mengasah kepekaan ilmiah terhadap bunyi dan getaran (Science), memanfaatkan alat musik sebagai produk teknologi (Technology), memahami struktur dan harmoni sebagai bentuk rekayasa seni (Engineering), menggunakan pola dan hitungan dalam tempo dan birama (Mathematics), serta menumbuhkan kehalusan rasa, kebersamaan, dan spiritualitas (Spiritual). Dengan demikian, musik menjadi wahana pendidikan yang holistik.

Lebih jauh, musik berperan penting dalam mengasah rasa dan kreativitas pelajar sejak dini, terutama dalam optimalisasi fungsi otak kanan. Melalui musik, pelajar belajar merasakan, bukan hanya menghafal; mengekspresikan, bukan sekadar meniru. Kepekaan rasa ini menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya empati, keindahan budi, dan keseimbangan emosional—unsur yang sering kali luput bila pendidikan hanya berfokus pada aspek kognitif semata.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban-peradaban besar selalu diisi oleh manusia-manusia yang berjiwa seni. Seni melunakkan kekerasan, menumbuhkan kepekaan sosial, dan memperhalus relasi antarmanusia. Dalam konteks ini, Islam tidak dipahami semata sebagai agama ritual, tetapi sebagai peradaban yang menghargai keindahan, keteraturan, dan harmoni. Seni musik menjadi salah satu medium untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata pelajar.

Melalui pengembangan potensi seni musik di MI Ma’had Al Zaytun, pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia yang utuh: cerdas akalnya, halus rasanya, kuat karakternya, dan manusiawi sikapnya. Inilah wujud nyata pendidikan yang menanamkan kesadaran sejak dini dan pada akhirnya menumbuhkan kemanusiaan—sejalan dengan visi besar Al Zaytun sebagai pusat pendidikan peradaban.


Rabu, 21 Januari 2026

Kurikulum LSTEAMS Menuju Basyaran Sawiyya: Ikhtiar Membangun Pendidikan Syamil dari PAUD hingga Kelas 12

 Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun


   Rapat Kurikulum LSTEAMS yang diselenggarakan pada Kamis, 22 Januari 2026 di Ma’had Al Zaytun menjadi momentum penting dalam pematangan arah pendidikan Al Zaytun ke depan. Rapat ini dihadiri oleh Eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, Majelis Guru, Majelis Pengendali Asrama Pelajar, para Kepala Satuan Pendidikan (PAUD, MI, MTs, dan MA), serta Komite Olahraga dan Seni Ma’had Al Zaytun. Dalam arahannya, Syaykh Al Zaytun menegaskan bahwa Kurikulum LSTEAMS harus dirangkum secara utuh, menyambung dari kelas 1 hingga kelas 6, bahkan berkelanjutan dari PAUD sampai kelas 12, sehingga pendidikan berjalan dalam satu tarikan napas kesadaran.

Syaykh menekankan bahwa inti dari LSTEAMS terletak pada huruf L (Law) sebagai puncak dan landasan tertinggi, yakni hukum Ilahi. Setiap mata pelajaran, khususnya sains dan ilmu-ilmu modern, harus diajarkan dengan kesadaran hukum: tidak melanggar nilai Ilahi dan berakar pada bacaan Al-Qur’an serta kutub samawiyah. Kurikulum tidak boleh berdiri di ruang hampa, melainkan harus membaca sejarah peradaban manusia secara menyeluruh. Dicontohkan oleh Syaykh bagaimana dalam sejarah Yahudi modern, tembok ratapan (dinding Sulaiman) disyariatkan secara politik pada abad ke-20, sementara dalam sejarah Islam Utsmani tembok tersebut dikenal sebagai Dinding Buraq. Keduanya memiliki kebenaran dalam konteks masing-masing, sekaligus menyimpan potensi konflik bila tidak dipahami dengan kesadaran toleransi. Dari sinilah pendidikan harus mengajarkan bahwa kebenaran sejarah sering kali bersifat berlapis, dan toleransi lahir dari kemampuan membaca semua narasi, bukan memonopoli satu sudut pandang.

 

Dalam konteks kurikulum nasional, Syaykh menegaskan sikap Al Zaytun: mengikuti SOP pemerintah, namun dengan pendirian ilmiah dan kultural sendiri. Tema pembelajaran boleh merujuk pada kerangka kurikulum nasional, tetapi kontennya dikembangkan secara mandiri dengan pendekatan LSTEAMS. Sebagaimana para pemikir besar dunia—Ibnu Rusyd yang membaca Aristoteles, Plato, dan Socrates, atau Thomas Aquinas yang juga mengkaji filsafat Yunani—pendidikan Al Zaytun diarahkan untuk bersifat syamil, membaca semua warisan ilmu tanpa kehilangan jati diri tauhid.

Lebih lanjut, Syaykh mendorong penguatan ekstrakurikuler sebagai ruang pendalaman setiap mata ajar. Dicontohkan dalam ekstrakurikuler pertanian: pelajar menghitung jumlah malai, jarak tanam, dan titik tanam (Mathematics), mempelajari teknik menanam dan pengendalian hama (Science, Technology, Engineering), memahami etika lingkungan dan hukum pemanfaatan lahan (Law), mengekspresikan keteraturan dan keindahan alam (Art), serta menumbuhkan kesadaran spiritual atas amanah mengelola bumi (Spiritual). Penilaian dalam LSTEAMS tidak seluruhnya harus berbentuk angka; sebagian cukup berupa narasi deskriptif yang mencerminkan proses, kesadaran, dan tanggung jawab pelajar.

Rapat ini juga menegaskan pentingnya pembakuan rencana yang telah disusun. Setiap guru diwajibkan membaca dan memahami kurikulum LSTEAMS, dengan pengarahan khusus sesuai bidang studi masing-masing. Metode pengajaran dan sistem penilaian LSTEAMS akan disusun berjenjang, dari PAUD hingga MA, dengan rujukan nilai Qur’ani sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Maryam ayat 11–17. Tujuan akhirnya adalah melahirkan basyaran sawiyya—manusia yang utuh, seimbang akal dan nuraninya, cakap ilmunya, halus adabnya, dan sadar perannya sebagai khalifah di muka bumi.

Melalui Kurikulum LSTEAMS, Ma’had Al Zaytun menegaskan arah pendidikan masa depan: pendidikan yang tidak terjebak pada dikotomi agama dan sains, tetapi menyatukan hukum Ilahi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan spiritualitas dalam satu kesadaran peradaban. Sebuah ikhtiar menanam kesadaran untuk menumbuhkan kemanusiaan.




Minggu, 18 Januari 2026

Menyiapkan Generasi Tangguh Sejak Dini

 

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Seleksi Persiapan Olimpiade Pelajar MI Ma’had Al Zaytun

Ma’had Al Zaytun terus meneguhkan komitmennya dalam menyiapkan generasi pelajar yang berdaya saing, berkarakter, dan berkesadaran masa depan. Salah satu ikhtiar nyata tersebut diwujudkan melalui Kegiatan Seleksi Persiapan Olimpiade Pelajar MI, yang dilaksanakan pada Ahad, 18 Januari 2026, pukul 14.30–16.30. Kegiatan ini diikuti oleh 30 pelajar terpilih dari kelas 4, 5, dan 6, terdiri atas 19 pelajar nisa dan 11 pelajar rijal.  


Seleksi ini mengujikan tiga mata pelajaran utama, yakni Matematika, IPA, dan IPS, sebagai fondasi kemampuan akademik yang dibutuhkan dalam berbagai ajang kompetisi dan olimpiade. Tujuan utama pelaksanaan kegiatan ini adalah menentukan sekaligus mempersiapkan pelajar-pelajar terbaik untuk mewakili sekolah dalam kompetisi akademik, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. Lebih dari sekadar seleksi, kegiatan ini menjadi proses pembelajaran awal agar pelajar mengenal tantangan, melatih kesiapan mental, dan membangun keberanian menghadapi kompetisi.


Suasana seleksi berlangsung serius namun penuh semangat. Banyak pelajar mengaku merasakan deg-degan, namun tetap berusaha mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh. Asyifah Fatiah Putri (kelas 6B05) mengungkapkan bahwa setiap soal ia awali dengan basmalah dan harapan besar agar dapat lolos serta membanggakan orang tuanya. Sementara itu, Cut Eirene Azalea (kelas 6B01) merasakan kegugupan karena harus menghadapi mata pelajaran di luar fokus latihannya, namun justru mendapatkan kesadaran baru bahwa IPA dan IPS dapat dipahami jika dipelajari dengan baik.


Pelajar lain seperti Shahnaz Aliyya Nurfauzi (kelas 5B01) melihat seleksi ini sebagai pengalaman penyegar, karena tidak hanya berkutat pada angka-angka matematika, tetapi juga memperluas pemahaman teori melalui IPA dan IPS. Bagi pelajar kelas bawah seperti Farsya Kahirina Azzahra (kelas 4B01) dan Muhammad Fadhil Ma’Arif (kelas 4B08), kegiatan ini menjadi pengalaman pertama yang membanggakan—melatih keberanian, kepercayaan diri, serta membuka kesadaran akan potensi diri yang dapat terus dikembangkan.

Kegiatan seleksi ini sejatinya menanamkan nilai penting yang dirumuskan dalam ungkapan “man ‘arofa bu‘das safari ista‘adda”—siapa yang memahami jauhnya perjalanan masa depan, maka ia akan mempersiapkan diri. Pelajar MI diajak untuk menyadari bahwa prestasi tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses, latihan, kegagalan, dan keberanian mencoba. Jika belum berhasil lolos, seleksi ini tetap menjadi bekal pembelajaran berharga untuk tumbuh lebih berani dan lebih siap di kesempatan berikutnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga menumbuhkan kemanusiaan dalam makna yang utuh: belajar jujur, berusaha maksimal, menerima hasil dengan lapang dada, serta menghargai proses dan kesempatan. Olimpiade bukan semata-mata tentang juara, melainkan tentang membentuk pelajar yang sadar potensi, sadar tujuan, dan sadar bahwa setiap usaha adalah bagian dari perjalanan hidup yang panjang.

Melalui seleksi persiapan ini, MI Ma’had Al Zaytun tidak hanya menyiapkan wakil sekolah untuk kompetisi, tetapi juga menanam kesadaran sejak dini bahwa masa depan perlu dipersiapkan dengan ilmu, keberanian, dan akhlak. Dari sinilah diharapkan lahir generasi pelajar yang siap melangkah jauh—bukan hanya unggul dalam lomba, tetapi juga unggul sebagai manusia.