Rapat Kurikulum L-STEAMS yang dilaksanakan pada Kamis, 29 Januari 2026 di Ruang Khos Masjid Rahmatan lil ‘Alamin Ma’had Al Zaytun menjadi momentum penting dalam pematangan arah pendidikan berbasis peradaban. Pertemuan ke-3 ini dipimpin langsung oleh Syaykh Al Zaytun dan dihadiri unsur Yayasan, Majelis Guru, Kepala Satuan Pendidikan, serta para pengampu kurikulum lintas jenjang. Fokus utama rapat adalah menegaskan fondasi Kurikulum L-STEAMS sebagai sistem pendidikan yang menyatukan hukum Ilahi, keilmuan, seni, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas.
Syaykh menegaskan bahwa L dalam L-STEAMS adalah fondasi tertinggi, yakni Law—hukum Ilahi—yang harus menjadi landasan seluruh mata pelajaran. L bukan sekadar satu mata ajar, melainkan ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan. Karena itu, L disiapkan secara khusus oleh Syaykh, sementara unsur STEAMS lainnya dikembangkan secara terpadu oleh para guru. Kurikulum ini tidak dimaksudkan sebagai tiruan model Barat, tetapi sebagai sistem yang berangkat dari pengalaman sejarah, nilai Al-Qur’an, dan realitas kebangsaan Indonesia.
Dalam pemaparannya, Syaykh mengajak seluruh peserta rapat untuk mendefinisikan ulang akidah. Akidah tidak berhenti pada rukun iman semata, tetapi diperluas menjadi keyakinan terhadap keberadaan tanah air, bangsa, dan bahasa. Keindonesiaan harus diakidahi. Dari sinilah Syaykh menempatkan Indonesia Raya tiga stanza sebagai road map peradaban, sejajar dengan konsep akidah dan syariah: akidah sebagai keyakinan, syariah sebagai jalan (road map), dan pendidikan sebagai kendaraan menuju keabadian bangsa.
Sejarah kemudian dihadirkan bukan sebagai glorifikasi, melainkan
sebagai bahan refleksi kritis. Syaykh mencontohkan bagaimana Stalin—yang sering digambarkan buruk oleh narasi Barat—justru memiliki kekuatan ashobiyah (solidaritas kolektif) yang mampu menyelamatkan Uni Soviet dari kehancuran total. Dari sini, konsep ashobiyah Ibnu Khaldun diangkat sebagai kunci lahirnya peradaban: tanpa solidaritas, tidak ada kemajuan; namun ketika solidaritas melemah, peradaban akan runtuh oleh individualisme, hedonisme, dan korupsi. Dalam konteks Indonesia, ashobiyah itu bernama gotong royong.
Syaykh menekankan bahwa pendidikan Al Zaytun tidak boleh tercerabut dari realitas geopolitik dan peradaban dunia. Korea Utara, Iran, Rusia, hingga Indonesia dibahas sebagai contoh bagaimana bangsa yang memiliki akidah kebangsaan mampu bertahan dari tekanan global. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berdiri—bukan sekadar “penduduk”. Sebagaimana makna qiyaman dalam Al-Qur’an, berdiri berarti siap bergerak, melawan, dan membangun.
Dalam aspek implementasi kurikulum, Syaykh menegaskan bahwa Art (A) dalam L-STEAMS bukan sekadar seni musik atau tari, melainkan hindam—keindahan cara menyampaikan ilmu. Sains, teknologi, matematika, dan bahkan hukum harus disampaikan dengan rasa, estetika, dan keluwesan agar menjadi rozīn: anggun, enak dipandang, dan manusiawi. Karena itu, seluruh materi akan disiapkan dalam format trilingual bahkan kuadrilingual (Indonesia, Arab, Inggris, dan Latin) sebagai wujud global education yang berakar pada identitas nasional.
Perhatian khusus diberikan pada PAUD sebagai fondasi utama. Syaykh menegaskan bahwa peserta didik usia dini tidak disebut “siswa”, melainkan “tunas”—simbol pertumbuhan dan harapan masa depan. Penilaian pada jenjang ini tidak boleh berupa angka, melainkan narasi deskriptif yang lahir dari pengamatan harian guru. PAUD harus diampu oleh guru-guru berpengalaman, karena di sinilah watak, rasa, dan dasar kemanusiaan ditanamkan.
Kurikulum L-STEAMS juga ditegaskan sebagai kurikulum yang hidup. Ia dapat berubah, diperbaiki, dan disempurnakan sesuai kebutuhan zaman, selama tidak keluar dari azas: Indonesia Raya tiga stanza dan Sumpah Pemuda. Kurikulum pemerintah digunakan untuk kepentingan administratif, tetapi ruh dan konten dikembangkan secara mandiri. Inilah bentuk kedaulatan pendidikan.
Sebagai penutup, Syaykh menegaskan tujuan akhir Kurikulum L-STEAMS: melahirkan Basyaran Sawiyya—manusia yang seimbang (balanced), moderat, dan beragam kemampuannya. Bukan insan kamil yang sempurna secara utopis, melainkan manusia nyata yang berakidah kuat, berilmu, beretos kerja, berjiwa seni, berkesadaran sosial, dan berkomitmen pada keabadian bangsa. Kurikulum ini bukan sekadar dokumen, melainkan ikhtiar peradaban untuk mempertahankan Indonesia melalui pendidikan.



.jpeg)

.jpeg)




.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
