Dzikir Jum’at Syaykh Al Zaytun: Menyambut Ramadhan dengan Kemandirian, Menghidupkan Tanah, dan Mendidik Peradaban

 

Disarikan dari Dzikir Jum'at Syaykh Al Zaytun, 30 Januari 2026

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.

Dzikir Jum’at Syaykh Al Zaytun pada Jumat, 30 Januari 2026, menegaskan kembali arah besar Ma’had Al Zaytun dalam menyambut bulan suci Ramadhan sekaligus membangun kemandirian pendidikan dan ekonomi berbasis ekologi. Syaykh menyampaikan bahwa paruh kedua bulan Februari diperkirakan telah memasuki bulan Ramadhan, sehingga seluruh warga Ma’had perlu mempersiapkan program ibadah sejak dini. Tadarrus Al-Qur’an, pengaturan aktivitas Ramadhan, serta pelaksanaan shaum yang tertib dan bermakna harus dirancang dengan kesadaran bersama, termasuk pengaturan akademik yang tetap berjalan namun fleksibel melalui musyawarah.

Dalam dzikir tersebut, Syaykh juga mengarahkan perhatian besar pada program strategis tahun 2026, yaitu fabrikasi pupuk organik mandiri. Unsur utama pupuk organik ini berasal dari serasah daun yang selama ini berserakan di lingkungan kampus. Melalui koordinasi Organisasi Pelajar Ma’had Al Zaytun (OPMAZ), para pelajar akan dilibatkan secara aktif untuk mengumpulkan serasah daun setiap hari, baik per kelas maupun per asrama. Daun-daun tersebut akan dikumpulkan di titik tertentu untuk kemudian diolah menjadi pupuk organik cair dan padat. Langkah ini tidak hanya menjadikan lingkungan kampus lebih bersih, tetapi juga mengubah limbah alami menjadi sumber daya yang bernilai.

Selain serasah daun, sumber pupuk organik juga berasal dari sisa-sisa rumah tangga kampus seperti kulit telur, air cucian beras, sisa makanan, serta bahan organik lainnya. Bahkan para guru pun diarahkan untuk berpartisipasi dengan membawa daun hijau segar setiap hari. Semua unsur ini akan diolah menjadi pupuk yang dapat diserap secara optimal oleh akar dan daun tanaman pangan, baik yang berasal dari sawah maupun kebun.

Target besar Ma’had Al Zaytun pada tahun 2026 adalah penggunaan pupuk organik hingga 90 persen. Langkah ini menjadi sangat signifikan mengingat jumlah tanaman yang dikelola mencapai puluhan ribu pohon perkebunan dan sekitar 400 hektare lahan padi. Jika mengandalkan pupuk kimia impor, biaya yang dibutuhkan sangat besar dan tidak efisien, terlebih semakin besar tanaman maka semakin besar pula kebutuhan pupuknya. Sebaliknya, pupuk organik tidak hanya lebih hemat, tetapi juga menghasilkan kualitas tanah dan tanaman yang lebih baik.

Syaykh menekankan bahwa pupuk organik berfungsi utama untuk menata dan menghidupkan kembali tanah Indonesia yang telah lama mengalami degradasi dan disebut sebagai “tanah mati”. Melalui prinsip fiqih ihya’ul mawat—menghidupkan tanah mati—tanah perkebunan yang mencapai ratusan hektare ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai komoditas yang menyejahterakan. Inilah bentuk nyata dari kemandirian: kemandirian pangan, kemandirian ekonomi, dan kemandirian pendidikan.

Dzikir Jum’at ini menegaskan bahwa mempertahankan bangsa dan negara tidak hanya dilakukan melalui wacana, tetapi melalui pendidikan yang membumi dan penataan ekonomi yang berakar pada alam. Menghidupkan tanah berarti menghidupkan manusia; mendidik manusia berarti menyiapkan peradaban. Dari Ramadhan yang dipersiapkan dengan kesadaran spiritual hingga pengelolaan pupuk organik yang sistematis, Ma’had Al Zaytun terus melangkah dalam satu arah: membangun peradaban yang mandiri, berkelanjutan, dan manusiawi.


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال