Refleksi Arahan Syaykh Al Zaytun pada Pelatihan Pelaku Didik Al Zaytun, 18 Januari 2025
Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.
Dalam Pelatihan Pelaku Didik Al Zaytun, Syaykh Al Zaytun menegaskan bahwa hakikat pendidikan hari ini adalah kesiapsiagaan menghadapi gelombang dunia global. Ungkapan “man ‘arafa bu‘das safari ista‘adda” menjadi landasan utama: siapa yang memahami jauhnya perjalanan masa depan, maka ia akan mempersiapkan diri. Ketidaksiapan saat bencana—baik bencana alam, ekonomi, maupun geopolitik—menurut Syaykh bukanlah takdir, melainkan tanda ketidaksadaran. Pendidikan tidak boleh berjalan reaktif, melainkan harus bersifat antisipatif, melahirkan manusia yang “siap” sebagaimana prajurit terlatih: bukan asal menyatakan siap, tetapi siap secara nyata, terukur, dan bertanggung jawab.
Syaykh mengaitkan kesiapsiagaan itu dengan pendidikan global (global education) yang melahirkan global thinking, global setting, dan global solidarity. Dunia kini berada dalam situasi hukum rimba global, di mana kedaulatan negara seringkali rapuh di hadapan kekuatan ekonomi dan militer. Gejolak geopolitik—termasuk potensi penculikan pemimpin negara, konflik antarblok, dan guncangan ekonomi dunia—akan berdampak langsung ke Indonesia. Oleh sebab itu, Al Zaytun memilih jalan kemandirian swasta: tidak bergantung pada negara, bahkan berkontribusi kepada negara melalui pajak dan penguatan ekonomi riil. Pengalaman sejarah Bung Karno dan dinamika politik nasional menjadi cermin bahwa bangsa yang mandiri seringkali justru ditekan.
Dalam konteks kependidikan, Syaykh menegaskan keberanian Al Zaytun untuk tidak lagi bergantung pada BOS, karena ketergantungan sering berujung pada pembatasan kreativitas dan pencarian kesalahan administratif. Maka, kebijakan strategis 2026–2027 diarahkan pada gerakan penghijauan yang produktif, bukan sekadar hijau simbolik. Penanaman durian menjadi ikon: dari hasil kajian lapangan, tanah Indramayu terbukti layak untuk durian. Target besar pun ditetapkan—50.000 pohon di atas 500 hektar lahan—dengan progres nyata berupa pembebasan lahan, termasuk penambahan 105 hektar di ketinggian 485 mdpl yang akan dinamai Bumi (atau Imah) Kadu Hideung 485. Hingga kini, total lahan yang tersedia telah mencapai sekitar 265 hektar dan terus bertambah.
Lebih jauh, Syaykh mengaitkan pengelolaan darat dengan laut melalui budidaya rumput laut, sebagaimana inspirasi dari materi Prof. Dr. Ir. Hari Eko Irianto. Rumput laut tidak hanya dipanen setiap 60 hari, tetapi juga difermentasi menjadi pupuk organik cair untuk menyuburkan ribuan pohon durian. Inilah penerapan nyata fiqh ihya’ al-mawat: menghidupkan bumi dengan ilmu, teknologi, dan keberanian berusaha. Ayat “minhā khalaqnākum wa fīhā nu‘īdukum wa minhā nukhrijukum tāratan ukhrā” tidak hanya dibaca untuk kematian, tetapi untuk kehidupan—bagaimana manusia bertanggung jawab mengelola bumi selama hidupnya.
Seluruh ikhtiar ini bermuara pada keadilan kesejahteraan, terutama bagi guru dan karyawan swasta yang selama ini pendapatannya jauh dari layak. Melalui investasi hijau—durian, pupuk organik, pertanian, dan perikanan—Syaykh menargetkan peningkatan kesejahteraan nyata dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Prinsipnya tegas: jangan takut tidak punya uang, karena uang hanyalah kertas bermerek; takutlah jika tidak punya tanah dan kemampuan mengelolanya. Dari tanah, manusia bisa menanam, membangun, dan menumbuhkan “emas hijau”.
Akhirnya, Syaykh menutup dengan seruan transformasi revolusioner pendidikan di 500 titik kabupaten/kota, sejalan dengan pengembangan Politeknik Tanah AIR. Kerja sama dengan Prof. Hari dalam pengembangan pupuk rumput laut berteknologi nano menjadi contoh sinergi ilmu, iman, dan kemandirian. Pendidikan, bagi Syaykh Al Zaytun, bukan sekadar mencerdaskan, tetapi mempersiapkan bangsa agar tidak takluk di tengah jalan, mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan menumbuhkan kemanusiaan melalui penghidupan bumi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar