Dalam Dzikir Jum’at tanggal 16 Januari 2026, Syaykh Al Zaytun menyampaikan kabar strategis yang menandai langkah besar Ma’had Al Zaytun dalam membangun kemandirian dan keberlanjutan pendidikan. Pada Rabu, 14 Januari 2026, atas nama LKM, Al Zaytun telah membebaskan lahan baru seluas 105 hektare di wilayah Subang. Lahan ini berjarak sekitar satu jam perjalanan dari kampus utama dan memiliki karakter geografis yang berbeda dibandingkan lahan Ciputat. Jika Ciputat berada di ketinggian sekitar 150 meter di atas permukaan laut dengan kontur landai dan tanah subur, maka lahan Subang terletak di ketinggian 480 meter, berbukit, bertanah merah, namun tetap subur dan kaya potensi hayati.
Keistimewaan lahan baru ini adalah kekayaan vegetasinya. Di dalamnya telah tumbuh sekitar seribu pohon durian—baik durian lokal unggulan maupun varietas modern—yang insya Allah akan berbuah serempak pada tahun ini. Selain itu, terdapat pula pohon manggis, nanas, rambutan, duku, kokosan, menteng, bambu, serta berbagai tanaman lainnya. Kondisi ini menjadikan lahan tersebut bukan hanya aset tanah, tetapi juga aset produktif yang hidup dan siap dikembangkan. Lahan ini dimiliki oleh satu orang pemilik dan dibebaskan dengan harga yang dinilai sangat patut, baik dari sisi nilai rupiah maupun potensi lahannya.
Syaykh menjelaskan roadmap pengelolaan lahan 105 hektare tersebut secara bertahap dan terukur. Tahap awal adalah pembangunan pagar pembatas pada area seluas 5 hektare yang sekaligus akan dimanfaatkan untuk penanaman sayuran. Setelah itu, dilakukan penomoran pada setiap pohon, dimulai dari pohon durian lalu diikuti pohon-pohon lainnya. Penomoran ini berjalan beriringan dengan pembersihan lingkungan, mengingat lahan tersebut telah lama tidak terurus. Tahapan berikutnya adalah perbaikan vila yang sudah ada serta pembangunan vila kayu baru yang permanen. Kemudian akan ditetapkan klasifikasi penginapan, mana yang diperuntukkan bagi umum dan mana yang khusus bagi warga Al Zaytun—guru, pelajar, dan seluruh civitas.
Syaykh menargetkan bahwa pada bulan Juni mendatang, jalan-jalan di kawasan perbukitan tersebut sudah harus dikeraskan. Program ini dirancang dalam rentang waktu tiga bulan sepuluh hari yang diulang tiga kali hingga menghasilkan perubahan menyeluruh. Setelah seluruh tahapan itu rampung, kawasan tersebut diharapkan tampil sebagai kholqun akhor—wajah baru yang tertata, produktif, dan bermakna—serta akan diberi nama baru sebagai simbol transformasi.
Penambahan aset ini, sebagaimana ditegaskan Syaykh, merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk memperkuat fondasi pendidikan Al Zaytun di masa depan. Upaya ini sejalan dengan program besar penanaman puluhan ribu pohon durian. Bahkan, kawasan Subang tersebut masih memungkinkan untuk diperluas hingga mencapai 300 hektare, sehingga cita-cita menanam 50.000 pohon durian bukanlah angan-angan, melainkan target yang realistis.
Dengan prinsip slow but sure, Syaykh mengajak seluruh warga Al Zaytun untuk terus melangkah ke depan dengan keyakinan dan ketekunan. Insya Allah, pada tahun 2027 Al Zaytun sudah dapat menikmati hasil panen sendiri. Sebuah gambaran kemandirian pun dilukiskan dengan penuh optimisme: warga Al Zaytun dapat makan dan menikmati hasil bumi di kawasan tersebut sepuasnya, cukup dengan mengganti tiket masuk. Sebuah visi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, kemandirian, dan kesejahteraan bersama—menanam hari ini, memetik masa depan.
Disarikan dari Dzikir Jum'at Syaykh Al Zaytun
Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar