Ashobiyah, Pendidikan, dan Indonesia Raya

 Simpulan dan Arahan Syaykh Al Zaytun pada Pelatihan Pelaku Didik ke-34


  Pada Pelatihan Pelaku Didik ke-34 yang dilaksanakan 25 Januari 2026, Syaykh Al Zaytun menyampaikan simpulan dan arahan strategis sebagai refleksi atas materi yang dipaparkan oleh Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D. Syaykh mengawali dengan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kontribusi keilmuan yang telah membuka ruang diskusi tentang masyarakat, ekonomi, dan peradaban.

Syaykh kemudian mengajak peserta kembali pada fondasi pemikiran Ibnu Khaldun, tokoh besar yang dikenal sebagai bapak sosiologi dunia. Dalam teorinya, Ibnu Khaldun menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial, dan modal utama terbentuknya peradaban adalah ashobiyah—yakni solidaritas sosial yang kuat. Tanpa ashobiyah, peradaban tidak akan lahir, apalagi berkembang. Syaykh mengkritisi secara nalar hadis yang diriwayatkan Abu Dawud tentang kematian dalam perjuangan ashobiyah sebagai kematian jahiliyah. Menurut Syaykh, pemahaman terhadap teks keagamaan harus menggunakan nalar dan konteks, sebab hadis tersebut muncul ratusan tahun setelah hijrah dan tidak bisa dilepaskan dari situasi sosial-politik zamannya.

Ashobiyah, dalam pandangan peradaban, bukan sekadar fanatisme buta, melainkan solidaritas kolektif yang menjadi energi pembentuk masyarakat dan negara. Namun Syaykh juga mengingatkan bahwa ketika peradaban mencapai puncak, ashobiyah bisa terkikis, berganti menjadi individualisme, hedonisme, dan korupsi. Di titik inilah peradaban mulai meluncur turun. Sejarah bangsa-bangsa di dunia menjadi bukti atas siklus ini.

Indonesia, menurut Syaykh, adalah contoh nyata keberhasilan teori Ibnu Khaldun dalam skala yang lebih luas. Negara ini tidak dibangun oleh satu suku atau satu kelompok, melainkan oleh ratusan suku bangsa yang melebur menjadi satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Inilah ashobiyah Indonesia. Roadmap peradaban Indonesia itu, kata Syaykh, terangkum secara filosofis dalam Anthem Indonesia Raya tiga stanza. Gotong royong adalah bahasa ashobiyah bangsa Indonesia.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,” tegas Syaykh, menekankan bahwa pendidikan dan infrastruktur harus berjalan seiring demi Indonesia Raya. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu di siang hari, sementara nilai dan moral runtuh di malam hari. Tanpa pendidikan jiwa, pembangunan fisik kehilangan arah.

Stanza kedua Indonesia Raya mengajarkan bahwa Indonesia adalah tanah mulia dan kaya. Memuliakan Indonesia adalah tugas bangsa Indonesia sendiri, bukan Amerika atau kekuatan imperialis mana pun. Ketika bangsa kehilangan ashobiyah terhadap negerinya, itu sama dengan pengkhianatan terhadap peradaban. Stanza ketiga menegaskan Indonesia sebagai tanah suci dan sakti. Kesucian dan kesaktian tanah air tidak datang dari bangsa lain, termasuk Arab Saudi, yang justru sering meminta bangsa lain mensucikan tanah mereka melalui ritual ibadah.

Syaykh mengingatkan bahwa penjajahan masa lalu terjadi karena bangsa ini belum terdidik. Hari ini, penjajahan hadir dalam bentuk baru melalui sistem global dan aliansi seperti NATO, yang membuat bangsa-bangsa lemah dijajah tanpa sadar. Karena itu, peradaban tidak boleh mundur. Bangsa Indonesia harus terus maju melalui pendidikan yang membangun manusia secara utuh.

Pendidikan berasrama menjadi salah satu solusi strategis, karena memungkinkan pembentukan masyarakat oleh sistem pendidikan, bukan sebaliknya. Dari sinilah gagasan besar membangun 500 pusat pendidikan di 500 kabupaten dan kota di Indonesia kembali ditegaskan. Pendidikan vokasi dan politeknik harus diperbanyak, dengan sistem terpadu yang mencakup guru, dosen, fasilitas, dan lingkungan pembelajaran dalam satu kawasan. Menurut Syaykh, investasi ini hanya membutuhkan sekitar 20 persen anggaran negara, namun hasilnya adalah sumber daya manusia yang tidak akan pernah habis.

Di akhir arahannya, Syaykh menegaskan bahwa Indonesia Raya bukan sekadar lagu kebangsaan, melainkan manifestasi teori peradaban Ibnu Khaldun dalam konteks Indonesia. Bangsa ini harus menjaga ruh kemerdekaannya. Zaman tidak boleh dipaksa berubah, sebab setiap zaman memiliki ruhnya sendiri. Alam semesta dan manusia berada dalam satu kesatuan di bawah Rabbul ‘Alamin. Jika keseimbangan itu dirusak, alam akan “menyikat” manusia.

Dengan demikian, pendidikan bukan hanya urusan sekolah, melainkan proyek peradaban. Melalui ashobiyah yang tercerahkan, pendidikan yang membangun jiwa dan raga, serta kesadaran kolektif sebagai bangsa, Indonesia diharapkan benar-benar menjadi Indonesia Raya yang abadi.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال