Senin, 12 Januari 2026

Briefing Pagi Guru MI Ma’had Al Zaytun: Menyemai Disiplin, Etos Kerja, dan Kemanusiaan Sejak Pagi

 Setiap pagi sebelum proses pembelajaran dimulai, guru-guru MI Ma’had Al Zaytun berkumpul bersama Kepala Madrasah dan jajaran pimpinan dalam kegiatan briefing pagi guru. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin pada pukul 07.00 WIB, setengah jam sebelum pembelajaran dimulai pada pukul 07.30 WIB. Briefing pagi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang strategis untuk menyelaraskan visi, memperkuat disiplin, serta menumbuhkan etos kerja dan kesadaran kemanusiaan para pendidik.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya tiga stanza. Di MI Ma’had Al Zaytun, lagu kebangsaan tidak hanya dimaknai sebagai simbol nasionalisme, tetapi juga sebagai doa untuk bangsa dan Negara Indonesia, agar senantiasa diberi keselamatan, persatuan, dan kemajuan. Momentum ini menanamkan kesadaran bahwa tugas guru bukan hanya mendidik murid, tetapi juga ikut menjaga dan membangun peradaban bangsa.

Selanjutnya dilakukan apersepsi kebangsaan dan global dengan ungkapan:

“Indonesia Rumahku, Asia Halaman Rumahku, Australia, Afrika, Amerika, dan Eropa Tempat Rekreasiku.”

Apersepsi ini menjadi pengingat bahwa guru dan peserta didik dibentuk sebagai manusia Indonesia yang berakar kuat pada tanah air, namun memiliki wawasan global dan kesiapan hidup di dunia internasional.

Briefing pagi dilanjutkan dengan pembacaan Sapta Janji Darma Bakti secara trilingual (Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris). Pembacaan ini mempertegas komitmen moral, profesional, dan spiritual guru sebagai pendidik yang berintegritas, sekaligus melatih kebiasaan berpikir dan berkomunikasi lintas bahasa dan budaya.

Setelah itu, guru-guru bersama-sama melaksanakan doa pagi, diawali dengan lantunan Asmaul Husna, kemudian dilanjutkan dengan doa yang bersumber dari Surah Al-Ahqaf ayat 15 dan Surah Ali ‘Imran ayat 191. Doa-doa ini mengandung pesan syukur, kesadaran akan proses kehidupan, serta refleksi mendalam tentang penciptaan alam semesta, sehingga menguatkan spiritualitas guru sebelum memasuki ruang kelas.

Memasuki sesi inti, Wakil Kepala MI Ma’had Al Zaytun menyampaikan briefing harian yang berisi koordinasi tugas guru pada hari tersebut, evaluasi pelaksanaan tugas sebelumnya, serta penekanan hal-hal teknis dan pedagogis. Pada sesi ini juga disampaikan arahan untuk peserta didik yang perlu diteruskan oleh guru jam pertama sebelum pembelajaran dimulai, seperti menjaga kebersihan lingkungan, membiasakan disiplin waktu, bersikap sopan, serta menumbuhkan tanggung jawab pribadi dan sosial.

Selanjutnya, Kepala Madrasah memberikan arahan umum yang bersifat penguatan visi, motivasi, dan nilai-nilai kepemimpinan pendidikan. Arahan ini menekankan pentingnya keteladanan guru, konsistensi dalam bekerja, serta kesadaran bahwa mendidik adalah pekerjaan kemanusiaan yang mulia—membentuk akal, akhlak, dan karakter generasi masa depan.

Kegiatan briefing pagi kemudian ditutup dengan penutup yang khidmat dan penuh semangat kebersamaan.

Melalui briefing pagi yang terstruktur dan sarat makna ini, MI Ma’had Al Zaytun menanamkan disiplin sebagai budaya, etos kerja sebagai karakter, dan kemanusiaan sebagai jiwa pendidikan. Guru tidak hanya disiapkan secara administratif dan pedagogis, tetapi juga secara mental, moral, dan spiritual, sehingga siap menjalankan perannya sebagai pendidik, teladan, dan pembangun peradaban sejak langkah pertama di pagi hari.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Minggu, 28 Desember 2025

Apel Pagi Pelajar MI Ma’had Al Zaytun: Menata Disiplin, Menyiapkan Jiwa Belajar


 Setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, pelajar MI Ma’had Al Zaytun mengikuti apel pagi sebagai bagian dari pembiasaan karakter dan kesiapan belajar. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah ritual pendidikan yang dirancang untuk menanamkan nilai disiplin, kebersamaan, nasionalisme, spiritualitas, serta kesadaran diri sejak usia dini.

Apel pagi diawali dengan berbaris rapi, melatih keteraturan dan kepatuhan terhadap aturan bersama. Seluruh pelajar kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebuah praktik nasionalisme yang konsisten ditanamkan di Ma’had Al Zaytun sebagai wujud cinta tanah air. Lagu kebangsaan tidak diposisikan sebagai formalitas, melainkan sebagai sarana membangun kesadaran bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga dan dimuliakan.

Setelah itu, pelajar mengikuti apersepsi kebangsaan dan global, dengan narasi: Indonesia Rumahku; Asia Halaman Rumahku; Australia, Afrika, Amerika dan Eropa Tempat Rekreasiku. Apersepsi ini menanamkan cara pandang luas bahwa pelajar MI bukan hanya warga sekolah atau daerah, melainkan bagian dari masyarakat dunia—berakar kuat di Indonesia, namun berpikiran global.

Rangkaian apel pagi dilanjutkan dengan pembacaan Sapta Janji Dharma Bakti dalam tiga bahasa—Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Penggunaan tiga bahasa ini sekaligus melatih keberanian berbahasa, memperluas wawasan kebahasaan, dan menegaskan identitas pelajar Ma’had Al Zaytun sebagai generasi yang siap hidup di lingkungan nasional maupun internasional. Setelah itu, apel ditutup dengan doa sebelum belajar, sebagai pengingat bahwa ilmu dan proses belajar adalah bagian dari ibadah kepada Allah.

Sebelum pelajar memasuki kelas, guru melakukan pemeriksaan kebersihan kuku dan rambut. Langkah sederhana ini mengajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman dan disiplin diri, serta menjadi syarat terciptanya lingkungan belajar yang sehat dan nyaman. Setelah seluruh rangkaian selesai, pelajar masuk ke kelas dengan kondisi fisik, mental, dan emosional yang lebih siap.

Menurut Kepala Bagian Kesiswaan MI Ma’had Al Zaytun, Ustadz Amirul Fajar Wahdana, S.Pd., apel pagi memiliki peran penting dalam keseluruhan ekosistem pendidikan MI. Ia menjelaskan bahwa apel pagi diadakan untuk melatih sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan pelajar sebelum memulai pembelajaran. Kegiatan ini menjadi titik awal pembentukan ritme harian yang tertib dan terarah.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa apel pagi membentuk karakter pelajar MI dengan menanamkan sikap hormat, kebersamaan, kepatuhan terhadap aturan, serta nilai religius dan nasionalis. Rutinitas seperti berbaris, berdoa, dan mendengarkan arahan secara tidak langsung membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab sosial sejak dini.

Dari sisi kesiapan akademik, apel pagi juga berpengaruh signifikan. Dengan adanya pengarahan dan penataan suasana di pagi hari, pelajar menjadi lebih fokus, tenang, dan siap menerima pelajaran di kelas. Apel pagi berfungsi sebagai jembatan transisi yang efektif dari aktivitas luar menuju proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih kondusif.

Melalui kegiatan apel pagi ini, MI Ma’had Al Zaytun menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi dimulai sejak pelajar menata barisan, menyanyikan lagu kebangsaan, mengucap janji, dan membersihkan diri. Inilah praktik nyata dari motto pendidikan Ma’had Al Zaytun: Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan—menanam kesadaran akan disiplin, identitas, dan tanggung jawab, sekaligus menumbuhkan manusia yang berkarakter, beradab, dan siap hidup bermakna di tengah masyarakat.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S. Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Rabu, 24 Desember 2025

Dari Tilawah hingga Sains: Jejak Prestasi Shahnaz Aliyya Nurfauzi, Santri MI Ma’had Al Zaytun yang Menginspirasi


 Semangat belajar, ketekunan, dan rasa syukur berpadu indah dalam diri Shahnaz Aliyya Nurfauzi binti Mohammad Fauzy, santri kelas 5 B 01 MI Ma’had Al Zaytun. Lahir di Jakarta pada 10 November 2013 dan berasal dari Jakarta Selatan, Shahnaz tumbuh sebagai pribadi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif mengembangkan potensi diri di bidang keagamaan, seni, dan sains.

Keseharian Shahnaz diwarnai dengan kegemarannya mendengarkan lagu dan membaca buku. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh kecintaan pada ilmu pengetahuan dan kepekaan rasa yang membentuk karakter disiplin serta daya pikir yang luas. Tak heran, sejak kelas 1 hingga kelas 4, Shahnaz selalu meraih peringkat 1 di kelas, sebuah pencapaian yang mencerminkan konsistensi dan komitmen tinggi terhadap proses belajar.

Prestasi Shahnaz tidak berhenti di ruang kelas. Di bidang akademik, ia berhasil menorehkan kebanggaan sebagai Finalis Kompetisi Sains OMNAS ke-14 tahun 2025, menunjukkan bahwa pelajar madrasah mampu bersaing dan berprestasi di level nasional. Sementara di bidang seni, Shahnaz turut mengharumkan nama madrasah melalui Juara 1 Tim Tari MI CUP 2022 (kelas 1), Juara 1 Tim Tari MI CUP 2023 (kelas 3), serta Juara 2 Tim Tari Fun Colorful Days 2 (kelas 4).

Pada ranah spiritual dan keagamaan, Shahnaz juga menunjukkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Ia meraih Juara 1 Lomba Tilawah Al-Qur’an ajang Piala OPMAZ tahun 2025, aktif sebagai peserta kegiatan Sima’an Juz 30 tahun 2024–2025, dan telah menorehkan prestasi mulia sebagai Hafidzah Juz 30 (Juz ‘Amma). Capaian ini menjadi bukti bahwa keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat benar-benar tertanam dalam proses pendidikannya.

Dalam ungkapan kesannya, Shahnaz menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Ia merasa beruntung dapat melakukan banyak hal baru yang tidak semua orang berkesempatan mengalaminya. Dengan penuh ketulusan, Shahnaz mengucapkan terima kasih kepada para guru dan pihak sekolah yang telah memfasilitasi berbagai kegiatan, kepada orang tua yang senantiasa mendukung dan mendoakan, serta kepada teman-teman yang selalu memberi semangat. Lebih dari itu, ia menegaskan keyakinan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu terus mencoba dan menaklukkan hal-hal baru di masa depan.

Dengan cita-cita mulia menjadi seorang dosen, Shahnaz memandang pendidikan bukan sekadar jalan meraih prestasi, melainkan sebagai sarana berbagi ilmu dan manfaat bagi sesama.

Kisah prestasi Shahnaz Aliyya Nurfauzi menjadi cerminan nyata keberhasilan pendidikan MI Ma’had Al Zaytun dalam membina generasi berilmu, beriman, dan berkarakter. Melalui proses belajar yang holistik—mengasah akal, menumbuhkan spiritualitas, serta membangun kepekaan sosial—Al Zaytun terus meneguhkan perannya dalam menanam kesadaran pada setiap peserta didik akan potensi dirinya, sehingga kelak mampu menumbuhkan kemanusiaan melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Selasa, 23 Desember 2025

Eksplorasi Harmoni: Keseruan Siswa Kelas 1 Mengenal Alat Musik di Palagan Agung


Al-Zaytun – Suasana belajar siswa kelas 1 terasa berbeda dan lebih bersemangat kali ini. Keluar dari rutinitas ruang kelas, para siswa melaksanakan kegiatan Pembelajaran Luar Kelas (Outdoor Learning) untuk mata pelajaran Kesenian (Seni Musik). Bertempat di area Dome dan Ruang Band Palagan Agung, kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman sensorik langsung bagi anak-anak.

Menanamkan Cinta Budaya Sejak Dini

Tujuan utama dari kegiatan ini bukan sekadar bermain, melainkan agar para pelajar dapat lebih mengenal dan mencintai seni budaya. Melalui musik, siswa diajak untuk mengasah kepekaan rasa, kreativitas, dan rasa percaya diri.

"Kami ingin anak-anak tidak hanya melihat gambar di buku, tapi mendengar dentuman drum, memetik senar gitar, dan merasakan getaran musik secara langsung. Ini adalah cara terbaik menumbuhkan kecintaan pada seni," ujar Amirul Fajar, selaku Tutor utama dalam kegiatan ini.

Kolaborasi Tim Pengajar

Kegiatan ini berjalan tertib dan interaktif berkat pendampingan intensif dari tim guru pengajar yang terbagi dalam beberapa kelompok:

  • Amirul Fajar (Tutor Utama)

  • Norma Yunita (Pendamping B01)

  • Anisa Apriliyanti (Pendamping B02)

  • Annisa Fitria (Pendamping B03)

  • Qurrotan Ayuni (Pendamping B04)

Dari Dome hingga Ruang Band

Kegiatan dimulai di area Dome dengan sesi pengenalan dasar dan olah vokal ringan. Keceriaan memuncak saat siswa memasuki Ruang Band. Di sana, mereka diperkenalkan dengan berbagai instrumen modern seperti drum, gitar listrik, bass, dan keyboard.


Para siswa tampak antusias saat diberi kesempatan untuk mencoba memukul simbal atau menekan tuts keyboard di bawah arahan para guru. Pengalaman "menjadi musisi cilik" dalam sehari ini memberikan kesan mendalam bagi para siswa kelas 1.

Penutup yang Berkesan

Pembelajaran luar kelas ini membuktikan bahwa pendidikan seni yang inklusif dan menyenangkan dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter siswa. Dengan mengenal alat musik secara langsung, diharapkan para siswa memiliki apresiasi yang lebih tinggi terhadap keragaman seni budaya di masa depan.

Senin, 22 Desember 2025

Bukan Sekadar Ujian, MI Ma’had Al Zaytun Latih Kejujuran dan Literasi Digital Sejak Dini


 Al-Zaytun
-- Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang semakin pesat telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih efektif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Pelaksanaan ujian di tingkat Sekolah Dasar selama ini umumnya masih dilakukan secara konvensional menggunakan kertas. Metode tersebut memiliki beberapa keterbatasan, seperti penggunaan kertas yang berlebihan, proses koreksi yang memerlukan waktu lama, serta potensi kesalahan dalam penilaian. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam sistem evaluasi pembelajaran, salah satunya melalui penerapan ujian berbasis komputer atau teknologi.

Ujian berbasis computer (Computer Based Test)di sekolah dasar bertujuan untuk melatih peserta didik dalam mengenal dan menggunakan teknologi sejak dini secara positif dan bertanggung jawab. Selain itu, sistem ini dapat meningkatkan kejujuran siswa, mempercepat proses penilaian, serta menghasilkan data hasil ujian yang lebih akurat dan transparan. Bagi sekolah, ujian berbasis teknologi juga mendukung efisiensi administrasi serta pengelolaan arsip hasil belajar siswa.

Dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi dan tuntutan peningkatan mutu pendidikan, pelaksanaan ujian berbasis komputer di tingkat Sekolah Dasar diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan pendidikan di masa depan, sekaligus mendorong terciptanya sistem evaluasi yang modern, efektif. 

Ujian berbasis komputer di Madrasah Ibtidaiyah Al Zaytun difokuskan pada peserta didik kelas V dan VI karena pada jenjang tersebut siswa telah memiliki kemampuan literasi dasar yang lebih matang, baik dalam membaca, menulis, maupun memahami instruksi. Selain itu, siswa kelas V dan VI umumnya sudah lebih terbiasa menggunakan perangkat teknologi seperti komputer atau laptop dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Dan dari segi kesiapan mental dan kemandirian, siswa kelas V dan VI dinilai lebih mampu mengikuti tata tertib ujian berbasis komputer, mengelola waktu pengerjaan soal, serta bertanggung jawab terhadap penggunaan perangkat yang digunakan. 

Pelaksanaan ujian berbasis komputer pada kelas VI juga berfungsi sebagai bentuk persiapan siswa dalam menghadapi jenjang pendidikan berikutnya yang sebagian besar telah menerapkan sistem ujian berbasis teknologi. Sedangkan ujian untuk peserta didik kelas I sampai IV karena pada jenjang tersebut siswa masih berada pada tahap penguatan kemampuan dasar, terutama dalam membaca, menulis, dan memahami instruksi secara sederhana. Penggunaan media kertas dinilai lebih sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif dan motoriknya. Selain itu, penerapan ujian bertulis membantu peserta didik kelas I–IV untuk lebih fokus pada pemahaman materi tanpa terbebani oleh penggunaan perangkat teknologi yang dapat menimbulkan kecemasan atau kesulitan teknis. Dan dari sisi efektivitas pembelajaran, ujian bertulis juga memungkinkan guru untuk memberikan pendampingan yang lebih optimal sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik. Dari latar belakang tersebut ujian yang dilakasanakan di Madrasah Ibtidaiyah Al Zaytun menetapkan ujian berbasis computer untuk kelas V dan VI sementara ujian bertulis kelas I-IV kebijakan ini dapat mendukung proses evaluasi pembelajaran yang adil, tepat sasaran dan sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.

Pelaksanaan ujian berbasis komputer untuk kelas V dan VI serta ujian tertulis bagi kelas I–IV di MI Ma’had Al Zaytun bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan bagian dari strategi pendidikan yang berangkat dari pemahaman perkembangan peserta didik secara utuh. Kebijakan ini mencerminkan kesadaran bahwa setiap tahap usia memiliki kebutuhan dan kesiapan yang berbeda, baik secara kognitif, emosional, maupun teknologi. Dengan pendekatan yang proporsional dan manusiawi, MI Ma’had Al Zaytun tidak hanya menyiapkan pelajar yang cakap secara akademik, tetapi juga membentuk karakter yang jujur, bertanggung jawab, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Inilah wujud nyata dari komitmen pendidikan Ma’had Al Zaytun dalam Menanam Kesadaran dan Menumbuhkan Kemanusiaan, agar ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan hadir sebagai bekal kehidupan.


Oleh: Ita Rosita, S.Pd., M.Pd. Kepala Bagian Kurikulum MI Ma'had Al Zaytun

Minggu, 21 Desember 2025

Santri Berprestasi MI Ma’had Al Zaytun: Eka Putri Nur Handayani, Dirigen Cilik Penuh Talenta


 MI Ma’had Al Zaytun kembali menorehkan kebanggaan melalui prestasi salah satu santrinya, Ananda Eka Putri Nur Handayani binti Nuryadi, santri kelas 6 B 04, kelahiran Bekasi, 02 Oktober 2017. Ananda Eka merupakan santri asal Bekasi (Koordinator Jakarta Timur) yang dikenal memiliki bakat seni yang menonjol serta prestasi akademik yang konsisten sejak dini.

Sejak kelas 1 hingga kelas 4, Ananda Eka selalu meraih peringkat pertama di kelas, menunjukkan keseimbangan yang baik antara kecerdasan akademik dan pengembangan minat bakat. Di bidang seni, khususnya vokal dan ekspresi panggung, Ananda Eka telah menorehkan berbagai prestasi, di antaranya Juara 2 Vokal Grup MI Cup, Juara 2 Vokal Solo MI Cup, Juara 1 Lomba Mewarnai MI Cup, serta Juara 2 Vokal Solo Fun Colorful Days MI Ma’had Al Zaytun 2. Selain itu, Ananda Eka juga merupakan Hafidz Juz Amma, yang mencerminkan kesungguhan dalam penguatan spiritual sejak usia dini.

Kepercayaan dan ketenangan Ananda Eka dalam memimpin juga tampak ketika ia dipercaya menjadi dirigen Lagu Indonesia Raya di hadapan ribuan aundiens pada berbagai agenda besar di lingkungan Ma’had Al Zaytun, seperti Peringatan 1 Syuro, Hari Ulang Tahun Al Zaytun, Simposium, dan Kuliah Umum. Peran tersebut tidak hanya menuntut keberanian tampil di depan publik, tetapi juga ketepatan, kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan—nilai-nilai yang terus ditanamkan dalam sistem pendidikan MI Ma’had Al Zaytun.

Dalam kesannya, Ananda Eka menyampaikan bahwa pada awalnya ia merasa grogi saat tampil di depan banyak orang. Namun, dengan keberanian untuk terus mencoba dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, rasa percaya dirinya tumbuh. Dukungan dari teman-teman, guru, dan orang tua menjadi kekuatan utama yang mendorongnya untuk terus belajar, berproses, dan meningkatkan kemampuan bernyanyinya. Cita-citanya pun mulia dan penuh semangat, yakni menjadi penyanyi dan aktris yang bermanfaat bagi banyak orang.

Prestasi Ananda Eka menjadi bukti bahwa MI Ma’had Al Zaytun tidak hanya mendidik santri agar unggul secara intelektual, tetapi juga memberi ruang luas bagi tumbuhnya potensi seni, karakter, dan kepemimpinan. Inilah wujud nyata pendidikan yang memanusiakan manusia, sejalan dengan motto Ma’had Al Zaytun: Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan—membangun generasi yang sadar akan potensi dirinya, berkarakter kuat, dan siap memberi kontribusi bagi bangsa dan peradaban.


Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

Sabtu, 20 Desember 2025

MENANAM TANGGUNG JAWAB SEJAK DINI



 Program Bimbingan Pelajar di Jalan MI Ma’had Al Zaytun

MI Ma’had Al Zaytun terus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran sosial pelajar. Salah satu ikhtiar nyata tersebut diwujudkan melalui Program Bimbingan Pelajar di Jalan, yaitu kegiatan pendampingan pelajar saat berangkat dari Asrama Persahabatan menuju sekolah di Gedung Pembelajaran Umar bin Khaththab, serta pendampingan saat pulang sekolah.
Program ini melibatkan pelajar kelas tertinggi, yakni kelas 5 dan 6, yang secara bergiliran bertugas membantu merapikan barisan, mengarahkan adik-adik kelas, serta menjaga ketertiban dan keselamatan selama perjalanan. Setiap harinya, tiga kelas ditugaskan sebagai petugas piket jalan, dengan pendampingan dan pengawasan langsung dari tiga orang guru.


Pendidikan Karakter di Ruang Nyata
Kepala Bagian Kesiswaan MI Ma’had Al Zaytun, Ustadzah Mursyidah Lathifah, S.E., menjelaskan bahwa pelibatan pelajar kelas tertinggi dalam kegiatan ini memiliki tujuan yang sangat mendasar.
“Kegiatan bimbingan jalan dilaksanakan oleh pelajar kelas 5 dan 6 dengan tujuan menanamkan rasa tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan sekolah, serta melatih kedisiplinan dan kepemimpinan pelajar dalam menjaga ketertiban dan keselamatan bersama, khususnya saat jam berangkat dan pulang sekolah.”

Melalui kegiatan ini, pelajar tidak hanya menerima aturan, tetapi belajar menjadi bagian dari penjaga keteraturan itu sendiri. Jalanan sekolah menjadi ruang belajar sosial, tempat nilai disiplin, empati, dan tanggung jawab dipraktikkan secara langsung.

Mengapa Kelas Tertinggi?
Pemilihan pelajar kelas 5 dan 6 sebagai petugas pembimbing jalan bukan tanpa alasan. Menurut Ustadzah Mursyidah, pelajar kelas tertinggi dinilai telah memiliki kesiapan yang lebih matang.
“Pelajar kelas tertinggi dinilai telah memiliki kedewasaan, pemahaman aturan sekolah, serta kemampuan fisik dan mental yang lebih siap. Selain itu, mereka dapat menjadi teladan bagi adik kelas dalam sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah.”
Dengan demikian, program ini juga berfungsi sebagai proses kaderisasi kepemimpinan, di mana pelajar belajar memimpin bukan dengan perintah, tetapi dengan keteladanan.


Evaluasi sebagai Budaya Belajar
Usai melaksanakan tugas pembimbingan di jalan, para petugas dari kelas tertinggi mengadakan evaluasi bersama guru pembimbing di depan Gedung Pembelajaran Umar bin Khaththab. Evaluasi ini menjadi ruang refleksi untuk membahas hal-hal yang sudah berjalan baik, kendala yang ditemui, serta sikap yang perlu diperbaiki ke depan.
Budaya evaluasi ini menegaskan bahwa setiap tugas adalah proses belajar, bukan sekadar rutinitas.

Harapan Jangka Panjang
Melalui Program Bimbingan Pelajar di Jalan, MI Ma’had Al Zaytun berharap dapat:
Menciptakan lingkungan sekolah yang tertib, aman, dan kondusif
Menumbuhkan kesadaran berlalu lintas dan keselamatan sejak dini
Membentuk pelajar yang peduli, disiplin, dan bertanggung jawab
Membekali pelajar dengan nilai-nilai sosial yang berguna dalam kehidupan bermasyarakat
Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus disampaikan di dalam kelas, tetapi dapat tumbuh kuat melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup
Sejalan dengan motto Al Zaytun, “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan”, program bimbingan pelajar di jalan ini menjadi sarana efektif untuk menanamkan kesadaran sosial sekaligus menumbuhkan rasa kemanusiaan sejak usia dini. Dari langkah-langkah kecil di jalan sekolah, tumbuh pribadi-pribadi besar yang siap menjaga keteraturan, keselamatan, dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun