Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun
Syaykh menekankan bahwa inti dari LSTEAMS terletak pada huruf L (Law) sebagai puncak dan landasan tertinggi, yakni hukum Ilahi. Setiap mata pelajaran, khususnya sains dan ilmu-ilmu modern, harus diajarkan dengan kesadaran hukum: tidak melanggar nilai Ilahi dan berakar pada bacaan Al-Qur’an serta kutub samawiyah. Kurikulum tidak boleh berdiri di ruang hampa, melainkan harus membaca sejarah peradaban manusia secara menyeluruh. Dicontohkan oleh Syaykh bagaimana dalam sejarah Yahudi modern, tembok ratapan (dinding Sulaiman) disyariatkan secara politik pada abad ke-20, sementara dalam sejarah Islam Utsmani tembok tersebut dikenal sebagai Dinding Buraq. Keduanya memiliki kebenaran dalam konteks masing-masing, sekaligus menyimpan potensi konflik bila tidak dipahami dengan kesadaran toleransi. Dari sinilah pendidikan harus mengajarkan bahwa kebenaran sejarah sering kali bersifat berlapis, dan toleransi lahir dari kemampuan membaca semua narasi, bukan memonopoli satu sudut pandang.
Dalam konteks kurikulum nasional, Syaykh menegaskan sikap Al Zaytun: mengikuti SOP pemerintah, namun dengan pendirian ilmiah dan kultural sendiri. Tema pembelajaran boleh merujuk pada kerangka kurikulum nasional, tetapi kontennya dikembangkan secara mandiri dengan pendekatan LSTEAMS. Sebagaimana para pemikir besar dunia—Ibnu Rusyd yang membaca Aristoteles, Plato, dan Socrates, atau Thomas Aquinas yang juga mengkaji filsafat Yunani—pendidikan Al Zaytun diarahkan untuk bersifat syamil, membaca semua warisan ilmu tanpa kehilangan jati diri tauhid.
Lebih lanjut, Syaykh mendorong penguatan ekstrakurikuler sebagai ruang pendalaman setiap mata ajar. Dicontohkan dalam ekstrakurikuler pertanian: pelajar menghitung jumlah malai, jarak tanam, dan titik tanam (Mathematics), mempelajari teknik menanam dan pengendalian hama (Science, Technology, Engineering), memahami etika lingkungan dan hukum pemanfaatan lahan (Law), mengekspresikan keteraturan dan keindahan alam (Art), serta menumbuhkan kesadaran spiritual atas amanah mengelola bumi (Spiritual). Penilaian dalam LSTEAMS tidak seluruhnya harus berbentuk angka; sebagian cukup berupa narasi deskriptif yang mencerminkan proses, kesadaran, dan tanggung jawab pelajar.
Rapat ini juga menegaskan pentingnya pembakuan rencana yang telah disusun. Setiap guru diwajibkan membaca dan memahami kurikulum LSTEAMS, dengan pengarahan khusus sesuai bidang studi masing-masing. Metode pengajaran dan sistem penilaian LSTEAMS akan disusun berjenjang, dari PAUD hingga MA, dengan rujukan nilai Qur’ani sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Maryam ayat 11–17. Tujuan akhirnya adalah melahirkan basyaran sawiyya—manusia yang utuh, seimbang akal dan nuraninya, cakap ilmunya, halus adabnya, dan sadar perannya sebagai khalifah di muka bumi.
Melalui Kurikulum LSTEAMS, Ma’had Al Zaytun menegaskan arah pendidikan masa depan: pendidikan yang tidak terjebak pada dikotomi agama dan sains, tetapi menyatukan hukum Ilahi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan spiritualitas dalam satu kesadaran peradaban. Sebuah ikhtiar menanam kesadaran untuk menumbuhkan kemanusiaan.


Assalamualaikum Merdeka
BalasHapusSukses Selalu Terwujud Semua Program Kita Dimanapun Kita Bertugas